Santabe Ncore Mena..Selamat Datang.
Welcome To My Private Home..Lembo Ade

Sabtu, 20 April 2013

PENANGANAN PADA ANAK DENGAN BIBIR SUMBING


Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan inteligensia berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan.
Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang di tunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak menuju dewasa. Perkembangan menandai maturitas dari organ-organ dan sistem-sistem, perolehan ketrampilan, kemampuan yang lebih siap untuk beradaptasi terhadap stress dan kemampuan untuk memikul tanggung jawab maksimal dan memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan  kreativitas.           
Sampai saat ini, penyebab utama terjadinya bibir sumbing belum diketahui pasti. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan bibir sumbing antara lain faktor genetik atau keturunan.Faktor keturunan ini diduga sangat kuat, mungkin salah satu orang tuanya atau keduanya membawa sifat sehingga timbul cacat bibir sumbing, sebagaimana halnya penyakit-penyakit bawaan yang lain. Kalau orang tuanya tak ada bibir sumbing mungkin nenek atau buyutnya, jadi garis turunan ke atasnya. Namun begitu, beberapa literature mengatakan bahwa faktor keturunan sebaiknya jangan dipersoalkan, sebab bisa menimbulkan masalah antara suami dan isteri. Bisa saling salah menyalahkan. Hendaknya lebih menekankan pada penanganan atau terapinya. Sebagai umat beragama lebih bijaksana dengan menerimanya dan berusaha menangani sebaik mungkin dengan menyerahkan kepada ahlinya.
Berikutnya, faktor lingkungan antara lain; adanya infeksi yang disebabkan virus Rubella/campak sewaktu ibu hamil muda. Kemudian, akibat teratogen; zat kimia yang menimbulkan kelainan perkembangan embrio jika diberikan selama kehamilan, semisal hydantoin, trimethadione, valporate, dan lain-lain. Lalu nutrisi, salah satunya adalah defisiensi atau kekurangan asam fosfat. Begitu pula obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil, seperti untuk menenangkan pasien sewaktu hamil muda. Sedangkan jamu-jamuan sampai sekarang belum diselidiki pengaruhnya. Bisa juga karena radiasi akibat reaksi berantai, seperti bom atom.
Faktor selanjutnya adalah multifaktor, adanya interaksi antara faktor lingkungan dan genetik.
Bibir sumbing tergolong cacat bawaan, tapi bisa diperbaiki mendekati normal. Yang penting lagi, anak harus disiapkan secara mental tentang kekurangannya.

A.         Pengertian
Bibir sumbing disebut juga sebagai Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit .
Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing  pada bibir) yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.
Pengertian lain menjelaskan bahwa Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada wajah.
Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan Labio Palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.

B.         Patofisiologi
Sampai saat ini, beberapa ahli mengungkapkan bahwa penyebab utama terjadinya bibir sumbing belum diketahui pasti. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan bibir sumbing antara lain faktor genetik atau keturunan. Faktor ini diduga sangat kuat, mungkin salah satu orang tuanya atau keduanya membawa sifat sehingga timbul cacat bibir sumbing, sebagaimana halnya penyakit-penyakit bawaan yang lain. Kalau orang tuanya tak ada bibir sumbing mungkin nenek atau buyutnya, jadi garis turunan ke atasnya. Namun begitu faktor keturunan sebaiknya jangan dipersoalkan, sebab bisa menimbulkan masalah antara suami dan isteri. Bisa saling salah menyalahkan. hendaknya lebih menekankan pada penanganan atau terapinya. Sebagai umat beragama lebih bijaksana dengan menerimanya dan berusaha menangani sebaik mungkin dengan menyerahkan kepada ahlinya.
Berikutnya, faktor lingkungan antara lain; adanya infeksi yang disebabkan virus Rubella/campak sewaktu ibu hamil muda. Kemudian, akibat teratogen; zat kimia yang menimbulkan kelainan perkembangan embrio jika diberikan selama kehamilan, semisal hydantoin, trimethadione, valporate, dan lain-lain. Lalu nutrisi, salah satunya adalah defisiensi atau kekurangan asam fosfat. Begitu pula obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil, seperti untuk menenangkan pasien sewaktu hamil muda. Sedangkan jamu-jamuan sampai sekarang belum diselidiki pengaruhnya. Bisa juga karena radiasi akibat reaksi berantai, seperti bom atom.
Faktor selanjutnya adalah multifaktor, adanya interaksi antara faktor lingkungan dan genetic.
Hasil Penelitian lain mengungkapkan bahwa penyebab utama bibir sumbing karena kekurangan seng dan karena menikah/kawin dengan saudara/kerabat. Bagi tubuh, seng sangat dibutuhkan enzim tubuh. Walau yang diperlukan sedikit, tapi jika kekurangan berbahaya.
Sumber makanan yang mengandung seng antara lain : daging, sayur sayuran dan air. Di NTT airnya bahkan tidak mengandung seng sama sekali. Soal kawin antara kerabat atau saudara memang menjadi pemicu munculnya penyakit generatif, (keterununan) yang sebelumnya resesif. Kekurangan gizi lainya seperti kekurangan vit B6 dan B complek. Infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat obatan/jamu juga bisa menyebabkan bibir sumbing.
Proses terjadinya labio palatoshcizis yaitu ketika kehamilan trimester I dimana terjadinya gangguan oleh karena beberapa penyakit seperti virus. Pada trimester I terjadi proses perkembangan pembentukan berbagai organ tubuh dan pada saat itu terjadi kegagalan dalam penyatuan atau pembentukan jaringan lunak atau tulang selama fase embrio.
Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal medical dan maxilaris maka dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan proses penyatuan tersebut akan terjadi pada usia 6-8 minggu. Kemudian apabila terjadi kegagalan penyatuan pada susunan palato selama masa kehamilan 7-12 minggu, maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis).

C.      Kategori dan Hambatan
Bibir sumbing merupakan cacat bawaan yang sudah tampak sejak bayi dilahirkan. Ciri-cirinya jelas sekali; akan tampak pada bibir bayi ada sumbingnya/celahnya atau terbelah, baik satu sisi atau dua sisi. Karena penampakannya yang nyata, cacat bibir sumbing berbeda dengan cacat lain yang kerap tak kelihatan seperti Hirschprung's (kelainan yang ditandai dengan menggembungnya usus besar).
1.         Kategori
Bibir sumbing dikategorikan dalam lima jenis yaitu :
a)            Kategori sederhana atau tidak lengkap; bila terbelahnya tidak seluruh ketinggian bibir, misal hanya 1/3 bibir.
b)            Bibir sumbing lengkap; bila terbelahnya pada seluruh ketinggian bibir.
c)            Bibir sumbing satu sisi; bila hanya sebelah kiri atau kanan saja.
d)            Bibir sumbing dua sisi; bila terbelahnya pada dua sisi bibirnya.
e)            Bibir Sumbing biila disertai terbelahnya/sumbing pada gusi dan langit-langit.
2.         Hambatan
Yang jelas, secara fisik bibir sumbing akan mempengaruhi fungsi bibir tersebut. Pada bayi, fungsi bibir adalah untuk mengisap atau menyusu. Jadi, dengan adanya bibir sumbing maka fungsi mengisap akan berkurang. Dikhawatirkan intake makanan akan berkurang, yang akan mempengaruhi status gizinya.
Selain itu, fungsi bibir untuk membentuk bunyi. Dengan adanya bibir sumbing, pengeluaran beberapa huruf akan terganggu, umpamanya huruf "m", "p", "b". Bahkan, bibir sumbing pun bisa mengakibatkan suara menjadi sengau. Hal itu akibat adanya kebocoran aliran udara, sebagian ke mulut dan sebagian bocor ke rongga hidung. Tapi, ini hanya terjadi pada langit-langit sumbing.
Dipandang dari segi kejiwaan, bila bibir sumbing dibiarkan atau tidak dilakukan penanganan/operasi, maka akan menimbulkan rasa rendah diri atau minder pada si penderita. Apalagi saat si anak memasuki usia sekolah dan seterusnya. Ini akan mengurangi rasa percaya diri, sehingga ia kurang produktif, dan akan menghambat karirnya di masyarakat,.

D.      Penatalaksanaan
Upaya pencegahan bibir sumbing pada bayi yang akan dilahirkan, secara teori dapat dilakukan dengan terapi genetik. Tapi secara praktek belum dapat dilaksanakan. Sebetulnya dalam usia kehamilan lewat 6 bulan cacat bibir sumbing sudah dapat dideteksi. Secara teori, penanganan atau operasi intra uterine dapat dilakukan dengan segala kerumitannya. Diharapkan hasil operasinya akan bagus sekali. Sayang, dalam praktek belum dapat diterapkan karena tingkat kerumitan dan risikonya sangat tinggi.
Dengan demikian pencegahan baru dilakukan pada tahap genetic counselling, berupa penerangan kepada pasangan yang akan membentuk rumah tangga. Inipun baru dalam tahap anjuran. Sampai saat ini pemeriksaan genetik memang dilakukan dengan konseling, meneliti sejauh mana turunan ke atasnya, karena itu akan memungkinkan terjadinya cacat bawaan yang kita pun tak bisa tahu. Jadi, lebih untuk kesiapan mental bila suatu kemungkinan terjadi. Di sini konseling belum memasyarakat, tak seperti di luar negeri yang sudah biasa.
Sedangkan terapi penanganannya hanya bisa dilakukan dengan cara operasi. Kendati, tak seluruh wilayah Indonesia memiliki kemampuan dan fasilitas sama untuk melakukan operasi bibir sumbing. Fasilitas yang ada sekarang tak sebanding dengan jumlah penderita.Jadi, misalnya dilahirkan seribu pasien bibir sumbing, yang dapat ditangani kurang lebih 300-400 setahun. Tahun depan begitu lagi, sehingga banyak di masyarakat terutama di daerah yang jauh dari jangkauan fasilitas yang memadai untuk yang sulit dilakukan operasi bibir sumbing.
Tujuan operasi, untuk membuat bibir sumbing jadi nearly normal looking. Tentu sebagai manusia biasa dokter berusaha semaksimal mungkin, tapi tentu saja tidak akan dapat menyamai kesempurnaan ciptaan Sang Pencipta. Untuk berusaha mendekati yang normal pun banyak kendalanya. Misalnya, bila dioperasi pada waktu bayi biasanya luka operasinya atau parutnya makin tidak jelas atau tipis. Sedangkan bentuknya diusahakan mendekati normal, baik bibir, hidung, ataupun secara keseluruhan. Baik dalam posisi diam atau sewaktu bibir bergerak, berbicara, tersenyum, bersiul dan lain-lain.Tapi, tentu saja tujuan utamanya lebih pada mengembalikan fungsi, selain sisi estetik dan kosmetik.
Penatalaksanaan tergantung pada kecacatan. Prioritas pertama antara lain pada tekhnik pemberian nutrisi yang adekuat untuk mencegah komplikasi, fasilitas pertumbuhan dan perkembangan.




Penanganan : bedah plastik yang bertujuan menutupi kelainan, mencegah kelainan, meningkatkantumbuh kembang anak. Labio plasty dilakukan apabila sudah tercapai ”rules of overten” yaitu : umur diatas 10 minggu, BB diatas 10 ponds (± 5 kg), tidak ada infeksi mulut, saluran pernafasan unutk mendapatkan bibir dan hidung yang baik, koreksi hidung dilakukan pada operasi yang pertama. Palato plasty dilakukan pada umur 12-18 bulan, pada usia 15 tahun dilakukan terapi dengan koreksi-koreksi bedah plastik. Pada usia 7-8 tahun dilakukan ”bone skingraft”, dan koreksi dengan flap pharing. Bila terlalu awal  sulit karena rongga mulut kecil. Terlambat, proses bicara terganggu, tidak lanjutnya adalah pengaturan diet. Diet minum susu sesuai dengan kebutuhan klien.

E.          Konsep Tumbuh Kembang, Bermain, Nutrisi dan Dampak Hospitalisasi.

Dibawah ini akan diuraikan mengenai konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi dan dampak hospitalisasi pada anak yang berumur 5 tahun.
1.         Pertumbuhan.
Menurut Whalley dan Wong (2000), mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, hal ini merupakan suatu proses yang alamiah yang terjadi pada setiap individu.
Sedangkan Marlow (1998) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan. Pertumbuhan pada anak usia 5 tahun pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata per tahunnya adalah 2 Kg, kelihatan kurus akan tetapi aktifitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh mencapai kematangan seperti berjalan, melompat, dan lain-lain.
Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75 sampai 7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2006).

2.         Perkembangan
Perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks yang melalui maturasi dan pembelajaran.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak diantaranya faktor herediter, faktor lingkungan, dan faktor internal. Perkembangan psikoseksual, anak pada fase falik (3-6 tahun), selama fase ini genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin, seringkali anak merasa penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya. Dengan perbedaan ini anak sering meniru ibu atau bapaknya untuk memahami identitas gender (Freud). Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan.
Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah yang terlihat sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya (Hidayat, 2006).

3.         Nutrisi.
Nutrisi sangat penting untuk tumbuh dan berembang, anak membutuhkan zat gizi yang esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air yang harus dikonsumsi secara seimbang, dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada tahapan usianya. Kebutuhan cairan pada anak usia 5 tahun  yaitu 1600-1800cc/24 jam (Hidayat, 2006). Kebutuhan kalorinya adalah 85 kkal per kg BB.
Pada masa prasekolah kemampuan kemandirian dalam pemenuha kebutuhan nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makanan seperti garpu, piring, sendok dan gelas semuanya harus dijalaskan pada anak atau doperkenalkan dan dilatih dalam penggunaannya, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada.
Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran dan buah-buahan.

4.         Bermain
Bermain merupakan suatu aktifitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa.
Pada usia 3-6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangakan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong.
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat-alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.

5.         Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu poroses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya sampai kembali kerumah.
Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stress.
Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakan amat, penuh kasih sayang, dan menanyakan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Perawatan dirumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya, anak merasa kehilangan kekuatan diri, malu, bersalah, atau takut.anak akan bereaksi agresif dengan marah dan berontak, tidak mau bekerjasama dengan perawat.







F.       Pemeriksaan penunjang
1.         Tes pendengaran, bicara dan evaluasi.
2.         Laboratorium untuk persiapan operasi; Hb, Ht , leukosit, BT, CT scan.
3.         Evaluasi ortodental dan prostontal dari mulai posisi gigi dan perubahan struktur dari orkumaxilaris.
4.         Konsultasi bedah plastik, ahli anak, ahli THT, ortodentisist, spech therapi.
5.         MRI

F.  Tes Skrining Perkembangan Menurut Denver (DDST)

DDST (Denver Developmental Screening Test) adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukanlah tes  diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan DDST secara efektif 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambangan perkembangan (Soetjiningsih, 1998).
Frankenburg dkk (1981) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu: Personal Sosial (kepribadian/ tingkah laku sosial) yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya; Gerakan Motorik Halus yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang sesuatu benda;  Bahasa  adalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan; Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor) adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Alat yang digunakan  seperti alat peraga: wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merah-hijau-biru, prmainan anak, botol kecil, bola tennis, bel kecil, kertas dan pencil; lembar formulir DDST; buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya (Soetjiningsih, 1998).
Penilaian sesuai dari buku petunjuk terdapat penjelasan tentang bagaimana melakukan penilaian, apakah lulus (Passed = P), gagal (Fail = F) ataukah  anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = N.O). Kemudian ditarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horizontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang F, selanjutnya berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: 
a.            Abnormal, bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan pada 2 sektor atau lebih, bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan plus 1 sektor atau lebih dengan keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.  
b.            Meragukan  (Questionable), bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih, bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sector yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 
c.                Tidak dapat dites (Untestable) 

Operasi sedini mungkin pun dilakukan agar anak masih memiliki kesempatan untuk dikoreksi ulang saat anak usia TK, misalnya. Jadi, bila operasi pertama usia 3 bulan, kemudian saat ia TK tampak bentuk bibirnya kurang bagus, maka ada kesempatan untuk operasi atau perbaikan ulang. Kemudian kalau usia remaja 12-14 tahun dan anak melihat sendiri dan merasa kurang bagus, ada kesempatan lagi dioperasi sebelum remaja.
 


Urgent..Masalah Kegemukan menyerang anak-anak


Banyaknya pemberitaan soal gizi buruk yang dialami anak Indonesia seperti menutup kemungkinan akan terjadinya obesitas pada anak indonesia. Padahal, kenyataannya, kejadian obesitas pada anak di Indonesia semakin meningkat. Pada tahun 2007, Departemen Kesehatan Republik Indonesia mencatat 9,5% anak lelaki dan 6,4% anak perempuan mengalami obesitas. Padahal pada tahun 1990, angka ini hanya berkisar 4%.anak berhubungan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, antara lain peningkatan kolesterol, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dini, diabetes, asma, leep apnea (berhenti napas saat tidur), masalah tulang ataupun kulit, serta problem psikologis misalnya kurang percaya diri.
Pencegahan obesitas pada anak dapat dimulai sejak dini, bahkan saat ibu masih mengandung. ibu dapat memulai pola hidup sehat dan menjaga kenaikan berat badan dalam kisaran yang diharapkan, baik kenaikan berat badan yang terlalu sedikit (sehingga bayi berat lahir rendah) maupun terlalu banyak berisiko untuk obesitas pada anak di kemudian hari. setelah bayi lahir, berikan asi eksklusif selama 6 bulan. asi merupakan satu-satunya nutrisi yang diperlukan bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya.
Makanan Pendamping asi (MP-ASI) dapat dimulai sejak usia 6 bulan dengan meneruskan pemberian ASI sampai 2 tahun atau lebih. Pemilihan MP-ASI dengan gizi seimbang dan sesuai dengan piramida makanan sejak awal membentuk pola makan yang baik pada anak. Obesitas jadi epidemi yang merajalela di dunia. Beberapa negara pun memberlakukan peraturan baru terkait kesehatan masyarakat. Hal serupa juga ditakutkan sebagian ibu di seluruh dunia. Bahaya obesitas pada janin yang mereka kandung. Terlebih lagi, bayi obesitas di dalam rahim berisiko lebih besar mengalami kelebihan berat badan saat dewasa.

A.        Permasalahan Kegemukan pada Bayi
Pertumbuhan dan perkembangan anak adalah masalah kesehatan yang sangat penting untuk selalu diperhatikan sejak dini. Selama ini tampaknya monitoring atau deteksi faktor pertumbuhan pada anak sering diabaikan. Hal ini tampak dari sangat jarangnya dokter anak menggambar grafik pertumbuhan berat badan pada buku kesehatan yang ada. Seringkali gangguan pertumbuhan terjadi setelah usia 6 bulan tidak terdeteksi dengan baik. Keadaan ini baru disadari setelah usia agak besar.
Kegemukan pada bayi bisa menjadi pertanda bahwa bayi mengalami obesitas. Jika orangtua bayi keduanya gemuk maka kemungkinan 80% anak akan ikut gemuk sedangkan jika salah satu saja dari orangtuanya gemuk maka kemungkinan 40% anak menjadi gemuk. Oleh sebab itu, orangtua yang merasa diri gemuk perlu mewaspadai kemungkinan kegemukan diturunkan pada bayi mereka.
Kita masih sering terkecoh dan berpikir kalau bayi sehat itu adalah bayi yang gemuk. Padahal tidak ada hubungannya antara kesehatan bayi dan berat badan. Namun sayangnya, anggapan sehat itu gemuk masih saja melekat di benak ibu-ibu masa kini. Tidak jarang ada ibu yang sengaja memberikan susu formula pada anaknya agar bisa gemuk dan juga memberikan makanan padat sebelum genap enam bulan. Saat ini seharusnya kita sudah harus mengoreksi persepsi bayi gemuk itu sehat di kalangan masyarakat. Justru melihat berat badan bayi yang di atas normal kita harus waspada, karena bisa jadi bayi menderita salah satu penyakit atau kelainan bawaan.
Bayi Kegemukan  didefinisikan sebagai kelebihan berat badan jauh melebihi berat badan ideal menurut panjang badan atau indeks massa tubuh (body mass index) melebihi BMI normal untuk usianya.
Kegemukan merupakan keadaan patologis sebagai akibat dari konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya (psychobiological cues for eating) sehingga terdapat penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh.

B.        Deteksi Dini Kegemukan/Obesitas
Kegemukan/Obesitas tidak selalu identik dengan gizi lebih/berat badan di atas rata-rata. Pada kelompok bayi yang kerangka tulangnya besar dan otot-otot yang lebih dari biasanya, sehingga berat badan dan panjang badan bayi di atas rata-rata bayi seusianya. Kelompok ini tidak disebut obesitas. Sehingga diagnosis obesitas dibuat berdasarkan terutama penampakan klinis daripada kelebihan berat badan tersebut.
Salah satu cara untuk mengukur jaringan lemak sub kutan di lengan atas adalah dengan mengukur tebal lipatan kulit trisep. Bila tebal lipatan kulit trisep berada di atas persentil ke-85 pada anak pada usia dan jenis kelamin yang sama di sebut obesitas ; bila lipatan kulit trisep di atas persentil 95 disebut super-obesitas.
Kelebihan rasio berat badan terhadap panjang badan di atas persentil ke-95 pada bayi/anak masih dikatakan overweight, bila dengan tebal lipatan kulit trisep dalam batas normal (di bawah persentil ke-85).
Berat ideal bayi/anak bilamana rasio berat badan dan panjang badan/tinggi badan berada pada persentil ke-50, pada usia dan jenis kelamin sama.
Kegemukan pada bayi umumnya disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Penyebab yang umum adalah kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, genetik, atau kombinasi dari faktor-faktor ini.

C.        Tanda-Tanda dan Ciri-Ciri Kegemukan pada Bayi
Tanda-tanda kegemukan pada bayi harus dikenali sebelum terlambat. Jika bayi terkena obesitas maka harus segera dilakukan tindakan penanganan karena obesitas akan menghambat pertumbuhan bayi tersebut. Jika bayi dibiarkan obesitas maka dia tidak bisa berkembang sebagaimana usianya nanti baik perkembangan fisik, mental maupun psikologis.
Semakin dini mengetahui bahwa bayi terkena obesitas maka akan semakin kecil resiko yang mungkin terjadi. Orang tua memang perlu waspada dan teliti tatkala melihat bayinya tampak lebih besar dibandingkan dengan teman bayi yang seusianya. Jangan gembira atau merasa gemas dulu jika bayi tampak lebih gemuk karena itu menjadi indikator awal obesitas.
Tanda dan Ciri kegemukan/obesitas yang mudah dilihat antara lain :
a)              Dari ciri fisik bayi tersebut. Jika bayi nampak gemuk dan besar maka periksalah berat badan bayi untuk meyakinkan apakah dia obesitas atau tidak. Berat bayi yang berada di atas rata-rata berat normal untuk usianya menandakan gejala obesitas.
b)              Index massa tubuh bayi bisa dihitung untuk lebih meyakinkan lagi. Index massa tubuh sama dengan berat badan bayi (kg) dibagi {tinggi badan bayi (cm)/100) x 2}. Jika nilainya sama dengan atau lebih dari 0,95 maka bayi mengalami obesitas.
c)              Ciri obesitas juga dapat diketahui dengan perbandingan antara berat badan bayi dengan berat badan ideal yang seharusnya. Jika nilai perbandingannya sama dengan atau lebih dari 120% maka bayi positif terkena obesitas. Dan lagi, jika berat bayi naik secara berlebihan selama 1 hingga 3 bulan dan kenaikannya di atas rata-rata kenaikan berat bayi maka bisa saja bayi terkena obesitas.
d)              Tidak hanya dari pengukuran berat badan, ciri obesitas bisa dilihat dari bentuk fisik yang lebih spesifik. Kegemukan pada bayi ditandai dengan adanya banyak lipatan pada tubuhnya terutama di bagian dagu. Pipi bayi tampak tembam dan lehernya pendek. Tubuh bayi terlihat tidak proporsional karena tinggi badan tidak senormal tinggi badan ideal seusianya.
e)              Pada bayi laki-laki, ciri obesitas terlihat dari pembesaran payudara di dadanya. Selain itu, bayi laki-laki ini justru memiliki alat kelamin yang kecil. Hal ini disebabkan karena jaringan lemak di daerah alat kelaminnya menumpuk dan menghambat perkembangan alat kelaminnya.
f)               Kegemukan pada bayi bisa juga dikenali dari pola makan dan pola hidup yang dialami oleh bayi. Misalnya jika bayi memang jarang bergerak atau kurang melakukan kegiatan dan aktivitas. Pola makan bayi yang berlebihan serta tidak bergizi. Jika hal ini terjadi maka orangtua harus mewaspadai obesitas pada bayi mereka.

D.        Penyebab Kegemukan pada Bayi
Berikut beberapa penyebab kegemukan pada bayi antara lain :
1)              Bayi bisa otomatis obesitas jika lahir dari ibu penderita diabetes yang tak terkontrol.
2)              Makanan padat diberikan minimal saat usianya enam bulan. Sebelum usia tersebut, risiko obesitas makin tinggi
3)              Susu formula mengandung kadar gula dan kalori tinggi dan itu yang menyebabkan berat badan bayi melonjak naik.
4)              Sering kali terjadi, saat bayi menangis, Ibu atau pengasuh langsung menyodorkan susu. Padahal pada bayi sehat, menangis tidak harus berarti tanda kelaparan. Bisa jadi sebenarnya bayi hanya butuh sentuhan.

E.        Akibat dan Komplikasi Kegemukan pada Bayi
            Kegemukan pada bayi harus diwaspadai karena bisa jadi bayi yang menderita kegemukan akan mengalami beberapa hal sebagai berikut :
1)            Penurunan Kekebalan Tubuh ; Jika kegemukan pada bayi dapat menurunkan kekebalan imun mereka, dan kegemukan ini bisa berlanjut hingga usia dewasa nanti.
2)            Lecet ; Banyaknya lipatan di kulit menyebabkan iritasi, lecet dan gatal-gatal. Bahkan pada sebagian bayi, daerah lipatan tersebut menimbulkan bau yang tak sedap.
3)            Kelainan Tulang ; ini sangat berpengaruh karena tulang bayi yang terbilang masih rawan harus menopang berat badan yang berlebih
4)            Masalah pada Paru-Paru ; para-paru kecilnya haru bekerja ekstra untuk menghirup udara dan bisa menyebabkan infeksi salurah pernapasan bawah.
5)            Bayi Lambat ;Bayi yang gemuk otomatis akan berpengaruh pada  pergerakannya.  Jadi tidak mengherankan jika bayi mengalami kegemukan cenderung bergerak lamban.
Selain itu, menurut Menurut Suandi,2004 dalam Soetjiningsih, 2004,komplikasi terjadi pada :
1)            Saluran pernafasan, pada bayi obesitas/kegemukan merupak resiko terjadinya infeksi saluran pernapasan bagian bawah karena terbatasnya kapasitas paru-paru, adanya hipetrofi tonsil akan mengakibatkan obstruksi saluran napas bagian atas, sehingga mengakibatkan anoksia dan saturasi oksigen rendah, disebut chubby puffer syndrome. Obstruksi kronis saluran pernafasan dengan hipertrofi tonsil dan adenoid, dapat mengakibatkan gangguan tidur, gejala-gejala jantung dan kadar oksigen dalam darah yang abnormal. Keluhan lainnya nafas pendek.
2)            Gangguan pada kulit dan ortopedi.Kulit sering lecet karena gesekan.
 

F.         Pencegahan dan Penanganan Kegemukan pada Bayi
1.         Pencegahan
Kegemukan/Obesitas jadi epidemi yang merajalela di dunia. Beberapa negara pun memberlakukan peraturan baru terkait kesehatan masyarakat. Hal serupa juga ditakutkan sebagian ibu di seluruh dunia. Bahaya obesitas pada janin yang mereka kandung. Terlebih lagi, bayi obesitas di dalam rahim berisiko lebih besar mengalami kelebihan berat badan saat dewasa.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mencegah kejadian kegemukan pada bayi antara lain :
1)            Pencegahan obesitas pada anak dapat dimulai sejak dini, bahkan saat ibu masih mengandung. Ibu dapat memulai pola hidup sehat dan menjaga berat badan.Ibu dapat memulai pola hidup sehat dan menjaga kenaikan berat badan dalam kisaran yang diharapkan, baik kenaikan berat badan yang terlalu sedikit sehingga bayi berat lahir rendah maupun terlalu banyak beresiko untuk obesitas pada anak di kemudian hari.
2)            Untuk memastikan bahwa Ibu tidak melahirkan bayi yang kelebihan berat badan, Ibu hamil sebaiknya menimbang berat badan secara teratur selama kehamilan. Agar lebih sehat, Ibu hamil bisa meningkatkan diet sehat dan olahraga ringan selama masa kehamilan.
3)            Selain menghindari pencetusnya, hal lain yang juga utama dalam menghindari kegemukan adalah dengan ASI. Semahal apa pun susu yang kita beli, ASI tetaplah juaranya. Selain lebih sehat, ASI menurunkan risiko obesitas pada bayi. Yang harus diingat adalah sesuatu yang alami selalu berdampak baik bagi kesehatan. Berbeda dengan lemak pada susu formula, lemak pada ASI sangat mudah dicerna oleh tubuh dan dari segi nutrisi, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Satu hal yang masih keliru tentang ASI dan obesitas. Masih banyak yang mengira kalau bayi ASI akan cepat gemuk lantaran harus diberikan selang dua jam sekali, berbeda dengan susu formula yang bisa mengenyangkan hingga 4-6 jam. Faktanya, semua zat pada ASI mampu diserap sempurna oleh tubuh, dan itu yang menyebabkan bayi akan lapar 2 jam sekali. Berbeda dengan susu formula yang kandungannya lebih lama dicerna tubuh dan mengendap.
4)            Meski tak banyak, dalam beberapa kasus ada bayi yang akhirnya tidak mendapatkan ASI. Dalam kasus tersebut, kita bisa menjaga berat badannya dengan mengontrol porsi susu. Jangan biarkan mereka minum susu formula secara berlebihan! Kadang rasa sayang membuat kita jadi buta dan malah membahayakan kesehatan mereka. Seorang Ibu harus tegas ketika bayi minum susu secara tidak terkontrol. Ini semua demi kesehatannya kelak.
5)            Makanan Pendamping ASI dapat dimulai sejak bayi menginjak umur 6 bulan dengan meneruskan pemberian ASI sampai 2 tahun atau lebih.Pemilihan MP-ASI dengan gizi seimbang dan sesuai dengan piramida makanan sejak awal membentuk pola makan yang baik pada anak.
6)            Pemberian gula dan garam sebaiknya ditunggu sampai bayi berusia 1 tahun ke atas
7)            Kadang beberapa ibu harus menunggu sampai si anak memberi sinyal lapar. Solusi terbaik untuk menghindari obesitas adalah dengan mengatur waktu makan. Berilah bayi makan secara teratur.
8)            Mengontrol nafsu makan anak menjadi cara terbaik untuk mengatasi obesitas. Ini tentu bukan masalah sepele.
Menurut Suandi,, 2004 dalam Soetjiningsih, 2004 pencegahan obesitas/kegemukan pada masa remaja/dewasa penting diantisipasi sejak bayi, karena berdasarkan Hasil Penelitian di Amerika (dikutip dari Knitle, 1981), dikatakan bahwa bayi yang berat badannya lebih dari 90 persentil pada usia 6 bulan pertama, 14% menjadi obesitas, 22 % kelebihan berat badan, dibandingkan dengan 5 % dan 9 % pada bayi yang berat badannya normal. Untuk mencegah kegemukan pada masa bayi, perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini :
1)            Setiap bayi dianjurkan untuk diberi ASI saja sampai 6 bulan, bagi bayi yang hanya mendapat susu botol, dianjurkan membuat susu dengan takaran yang benar, tidak memaksa untuk menghabiskan susunya setiap kali minum.
2)            Pemberian makanan padat mulai diberikan umur 6 bulan
3)            Penyuluhan tentang kebutuhan diet bayi, percepatan pertumbuhan bayi.
4)            Biasakan mengukur Berat Badan dan Tinggi Badan anak secara rutin sekali dalam sebulan (menggunakan KMS), konsultasikan hasil penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan pada dokter atau petugas kesehatan.
5)            Evaluasi kualitas pengasuhan anak, menganjurkan/membiarkan anak bergerak bebas, aktifitas fisik merupakan factor pencegahan obesitas/kegemukan.
 
G.        Penanganan Kegemukan pada Bayi
Pada bayi yang mengalami kegemukan/obesitas, tujuan terapi bukanlah untuk menurunkan berat badannya seperti pada kegemukan/obesitas dewasa, tetapi memperlambat kecepatan kenaikan berat badannya. Bayi diberikan diet sesuai kebutuhan normal untuk pertumbuhan, yaitu 110 kkal/kg BB/hari untuk bayi kurang dari 6 bulan dan 90 kkal/Kg BB/hari untuk bayi lebih dari 6 bulan. Susu botol jumlahnya harus dikurangi dengan cara diselingi dengan member air tawar biasa. Tidak dianjurkan memberikan susu yang diencerkan atau susu rendah dan tanpa lemak. Di samping itu kita anjurkan pada ibunya agar memberikan dan mendorong anak untuk melakukan aktivitas (Suandi,2004 dalam Soetjiningsih, 2004)
Dalam beberapa literature, jika kegemukan terjadi pada bayi, beberapa hal yang harus dilakukan antara lain :
1)            Memberikan ASI dibandingkan susu formula. ASI atau air susu ibu terbukti dapat mencegah dan mengatasi obesitas pada bayi. Namun jika ternyata bayi tidak suka ASI maka orang tua harus mengontrol porsi susu formula yang diberikan. Susu formula tidak boleh diberikan secara berlebihan dengan alasan sayang dan kasihan pada bayi karena hal itu justru akan membuat obesitas makin parah.
2)            Orang tua harus mulai mengontrol pola makan sang bayi. Jangan selalu menuruti keinginan atau permintaan bayi untuk makan. Sebaiknya berikan bayi makan terlebih dulu sebelum dia merengek atau meminta. Buatlah pola yang teratur untuk makan bayi dan taatilah hal tersebut.
3)            Makanan yang diberikan untuk bayi obesitas hendaknya menghindari makanan yang manis, berkalori tinggi serta banyak lemak. Berikan banyak buah-buahan dan sayur-sayuran. Jika bayi masih kecil, maka bentuk jus buah atau jus sayur bisa menjadi pilihan. Bayi yang obesitas memang sebaiknya banyak memakan makanan yang mengandung serat untuk melancarkan pencernaannya dan menurunkan berat badannya.
4)            Selain itu, bayi yang obesitas harus sering diajak melakukan aktivitas fisik. Bayi bisa diajak spa bayi sehingga dia bisa bergerak bebas di dalam air atau permainan yang lainnya. Dengan cara-cara di atas, orang tua akan bisa mengatasi tanda-tanda obesitas pada bayi.

Sabtu, 02 Februari 2013

EPISODE YANG TERTINGGAL

Mataram, 02 Februari 2012

5 Bulan..2 kata..tapi penuh kata perjuangan di dalamnya.Perjuangan menjalani kehidupan sendiri tanpa suami karena terpisah jarak, perjuangan hidup bersama putri tercinta hanya sendiri ditengah setumpuk ujian-ujian perkuliahan.
Awalnya,aku merasa ngga akan mampu menjalani ini sendiri tanpa suami,karena selama ini sejak menikah aku sangat tergantung padanya..dari yang biasanya menjalani apapun hanya sendiri.Tapi akhirnya, aku mampu juga menghadapi segalanya, harus bisa...

Ujian Semester telah  melewati 5 hari..sudah ngga bisa seidealis dulu.terlalu banyak hal yang menumpuk di otak dan pikiranku sehingga otakkupun sudah ngga mampu untuk menghafal segalanya.

Saat ini di tengah membludaknya ujian yang harus dihadapi,,sesuatu dari masa lalu kembali terkuak. setiap kali ini terkuak, setiap kali itu juga memoar2 penyesalan dari sebuah episode yang tertinggal kembali menggunung di perasaanku.Hanya Allah yang tahu bagaimana perjalanan hidupku bisa seperti ini. harusnya ini sesuai dengan aku, harusnya ini adalah pilihan aku, harusnya ini merupakan jalan hidup aku, harusnya ini akan menjadi tujuan hidup aku, harusnya ini adalah pengabdian aku,,,harusnya..tetapi ternyata aku selalu tersadar,,dimana akhirnya aku terdampar,terdampar dalam suatu kehidupan asing yang kucoba jalani meski tertatih karena ini juga merupakan pilihan aku setelah tak ada lagi pilihan yang bisa kupilih. ketika itu harus menjauh, ketika itu harus memutuskan memilih tujuan yang lain, ketika akhirnya akupun jadi tau bahwa keputusan itu adalah keputusan yang terburu-buru, keputusan mengartikan sesuatu yang salah dan tidak pada tempatnya dan akhirnya kusesali,,,masalalukupun ikut menyesali.
Aku tahu Allah menngetahui dan meyakini yang terbaik buat aku meski aku secara manusiawi sangat menyayangkan pilihan-Nya. kenapa bukan yang ini, kenapa bukan yang itu?
karena alam bawah sadarkupun, relung terdalam hatiku, sangat meyakini kalo pilihan yang tak terpilih adalah belahan hatiku, hanya ini yang mampu mengerti siapa aku, hanya mampu menjadi tempat aku melabuhkan segala kegundahan hatiku, yang selalu punya waktu dan telinga untuk sekedar mendengar keluhan tak berarti dari aku...Suamikupun belum mampu sekedar untuk menyediakan secuil telingan dan waktunya untuk mendengar kegundahan hatiku.
Tuhan,,aku tahu pengabdian terakhirku bukan untuk masa laluku yang tak pernah lekang dari penyesalanku
Tuhan,, aku yakin yang terbaik selalu menurut-Mu
Tuhan,,aku ingin selalu bisa mensyukuri segala yang telah engkau berikan kepada aku
Tuhan,,bantu aku mengurangi ataupun mengenyahkan penyesalan ini
karena meski masa lalu ini adalah sebuah episode yang tertinggal tapi aku tak ingin mengambilnya kembali..meski aku sangat mencintainya,pun sampai sekarang...tapi untuk mengambilnya kembali akan terlalu banyak yang tersakiti.

Rabu, 12 Desember 2012

DEMAM 12-12-12

DEMAM 12-12-12

hari ini tanggal 12 bulan 12 tahun 2012...angka-angka yang cantik dan pas..tapi buat aku ini hanya angka-angka yang kebetulan memiliki pola yang pas..gak ada yang istimewa..gak ada yang bikin heboh.
tapi karena demam angka2 ini..banyak yang buat rencana menikah, melahirkan, jadian, presentasi skripsi dan yang lebih parah malah ada yang berencana buat bercerah (whats??)

Yang aku mengerti, setiap hari adalah istimewa..berusaha menjalani hari demi hari dengan lebih baik.mengambil banyak hikmah pada setiap hikmah, pada setiap kejadian, pada setiap pelajaran, pada setiap kesedihan, pada setiap kesenangan, pada setiap senyuman, pada setiap rasa mumet, pada setiap perasaan galau,pada setiap kesulitan, pada setiap tawa, pada segala bentuk kejadian untuk kujadikan pelajaran, untuk menjadi lebih baik dari hari-hari kemarin.

Seperti hari ini, seperti hari-hari kemarin...aku dengan penuh semangat berangkat kuliah, mengharap mendapatkan sesuatu yang baru...tapi ternyata 2 mata kuliah yang harusnya masuk hari ini ternyata mendadak dibatalkan..1 dengan alasan dosennya harus nguji proposal KTI adik tingkat, yang 1 nya tanpa alasan yang jelas (katanya bahannya rumit????maksudnya apa ya??gak mampu ngajar maksudnya?whatever lah)
Akhirnya..aku terjebak di sudut kampus bersama WIFI gratisan punya teman.memanfaatkan momen gratisan ini untuk menulis..menulis apa saja..mengasah kemampuan menulis yang sudah lama kutinggalin.
sembari menunggu perbaikan proposal skripsiku yang belum kunjung diperbaiki oleh dosen pembimbingku (plis dong pak??aku dah dijadwalin maju pertama lagi helllo???)..jadi bingung harus ngapain kalo hari ini tidak ada mata kuliah..proposalpun belum diperiksa..

ada teman seorang polisi ngeluh karna setiap hari harus jaga gara2 di Bima sekarang lagi serinng banget unjuk rasa..fenomena appa ini ya??apa ini imbas dari karna mereka merasa tidak mendapat keadilan?ato karna memang gak ada yang bisa dikerjain?jadi terima aja ajakan buat ikut2an demo...sangat disayangkan karna tujuan utama demo jadi sangat gamang..gak jelas akhirnya apa maunya dan mewakili siapa.
sangat mengecewakan akhirnya orang luar menyangka bahwa Bima jadi tempatnya Politik kotor, jadi temapt orang2 yang gak bisa diajak bicara, jadi tempat orang2 yang penuh dengan prasangka, jadi tempat orang2 yang bisanya angkat senjata daripada duduk dan bicara....mumet jadinya padahal sebenarnya itu anggapan yang sama sekali gak bisa disamaratakan..

12-12-12..semoga hari ini memberi banyak hikmah dan pelajaran buat orang2 yang menganggap ini penting dan bersejarah.