Santabe Ncore Mena..Selamat Datang.
Welcome To My Private Home..Lembo Ade

Sabtu, 20 April 2013

WASPADAI....GANGGUAN BELAJAR PADA REMAJA


Keberhasilan dalam bidang pendidikan adalah salah satu tujuan utama pada masa remaja. Hal ini akan besar pengaruhnya pada keadaan ekonomi dan emosi pada masa dewasa. Gangguan belajar dapat berperan besar pada kemampuan belajar, keberhasilan di sekolah, dan melakukan pekerjaan. Diperkirakan bahwa paling sedikit 20% dari kebanyakan pelajar mengalami kesulitan dalam penampilan akademis. Beberapa individu ini mempunyai masalah penyakit dasar berupa retardasi mental. Sedangkan individu yang lain, kemampuan yang kurang ini dapat sebagai akibat dari masalah emosi dan perilaku. Faktor lain yang juga berperan adalah masalah keluarga, social dan budaya.
Remaja dengan gangguan neurologi seperti misalnya Sindroma Tourette, Neurofibromatosis, atau kejang menunjukkan angka kejadian gangguan belajar lebih tinggi dari orang normal. Penderita gangguan belajar menunjukkan bukti lain dari disfungsi neurologi, dimana sebagian besar sering ditemukan mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperaktivity Disorder). Diperkirakan antara 20-25% anak dengan gangguan belajar mengalami ADHD.
Gangguan penampilan di sekolah juga berhubungan dengan adanya retardasi pertumbuhan di dalam kandungan. Dari suatu penelitian didapatkan bahwa individu yang mengalami retardasi pertumbuhan dalam kandungan, penampilan di sekolah akan lebih buruk dibandingkan dengan individu yang tidak ada riwayat retardasi pertumbuhan dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh karena janin yang mengalami retardasi pertumbuhan di dalam kandungan gagal mempertahankan perkembangan otak yang normal.
Gangguan belajar adalah salah satu penyebab rendahnya potensi akademik. Angka kejadian gangguan beljar tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan berkisar antara 5-10 % pada populasi, dimana setengah dari gangguan belajar adalah gangguan membaca. Penderita dengan gangguan belajar dapat berasal dari berbagai tingkatan masyarakat. Perbandingan kejadian  gangguan belajar antara laki-laki : perempuan adalah 2 : 1 sampai 4 : 1 dan resikonya meningkat pada anak dengan gangguan emosi dan perilaku.

A.        Sejarah dan Definisi
1.         Sejarah
            Sampai tahun 1940-an di Amerika Serikat, anak-anak dan remaja yang mengalami kesulitan akademis adalah mereka yang mengalami retardasi mental atau gangguan emosi atau masalah sosial dan budaya. Selama tahun 1940-an, keempat kesulitan tersebut telah dikenal.
            Individu dengan masalah penampilan akademis untuk alasan-alasan neurologis penyebab kelainan ini adalah berhubungan dengan fungsi otak. Ada 2 penelitian yang berusaha mengungkapkan dugaan kelainan neurologis yang mendasari gangguan belajar tersebut. Penelitian pertama mendapatkan bahwa anak-anak ini mempunyai jenis kesulitan belajar yang sama yaitu anak-anak dengan kerusakan otak. Mereka juga menyimpulkan bahwa anak-anak ini mengalami kerusakan otak, akan tetapi kerusakan otak sangat minimal dan tidak kelihatan secara klinis. Berdasarkan penelitian tersebut dikenal istilah kerusakan otak minimal. Peneliti lain mencoba mencari kemungkinan bahwa kesulitan belajar akibat dari fungsi otak yang berbeda, kemungkinan oleh karena gangguan “ sirkuit/sambungan” pada otak. Berdasarkan penelitian ini dikenal istilah atau konsep disfungsi otak minimal. Penelitian akhir-akhir ini lebih meyokong teori disfungsi otak minimal daripada teori kerusakan otak.
            Pada Awalnya, jenis-jenis kesulitan akademis dijelaskan berdasarkan atas gangguan kemampuan primer. Gangguan membaca disebut disleksia, gangguan menulis disebut disgraphia, dan gangguan aritmatika disebut diskalkulia. Belakangan ini penelitian-penelitian dipusatkan pada penyakit dasar yang mendasari kesulitan atau gangguan belajar yang menyebabkan masalah-masalah membaca, menulis an aritmatika.

2.         Definisi
            Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders : Third Edition-Revised (DSM-III-R), Seseorang dikatakan mengalami gangguan belajar apabila mengalami development learning disorder. Sistem sekolah umum menggunakan pedoman dalam Public Law 94-142 (di USA), mengenai individu-individu yang mengalami gangguan belajar. Gangguan perkembangan belajar tercantum dalam DSM-III-R pada diagnosis aksis II sebagai specific development disorder. Gangguan ini ditandai oleh perkembangan yang tidak adekuat dari akademik spesifik, bahasa, bicara, dan kemampuan motorik bukan akibat dari gangguan fisik yang terbukti atau gangguan neurologi, gangguan perkembangan pervasive, retardasi mental atau kesempatan untuk menikmati pendidikan yang kurang.
           

Gangguan-gangguan ini dikelompokkan menjadi subkelompok sebagai berikut :
a.            Gangguan kemampuan akademis
·           Gangguan perkembangan aritmatika
·           Gangguan perkembangan menulis ekspresif
·           Gangguan perkembangan membaca
b.            Gangguan bahasa dan bicara
·           Gangguan perkembangan artikulasi
·           Gangguan perkembangan bahasa ekspresif
c.            Gangguan kemampuan motorik
a.      Gangguan perkembangan koordinasi
Dalam Federal Low (USA), yang dimaksud dengan gangguan belajar adalah : suatu gangguan pada satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang meliputi mengerti atau menggunakan bahasa, berbicara atau menulils yang dapat muncul sebagai kemampuan yang tidak sempurna dari mendengar, berpikir, bicara, membaca, menulis, mengeja,atau mengerjakan perhitungan matematika.
Keadaan-keadaan yang termasuk ini meliputi : cacat persepsi. Injuri otak, disfungsi otak, minimal, disleksia, dan afasia perkembangan. Keadaan- keadaan yang tidak termasuk di sini adalah anak dengan masalah belajar yang secara primer akibat dari cacat penglihatan, pendengaran, atau motorik, atau retardasi mental, gangguan emosi, atau keadaan yang merugikan dari lingkungan, budaya dan ekonomi.

B.        Masalah-Masalah
            Masalah-masalah yang berhubungan dengan gangguan belajar antara lain :
  • Masalah-masalah Emosi dan perilaku
Dalam Sistem pendidikan seorang remaja dikatakan mengalami masalah perilaku jika mereka sulit belajar di dalam kelas. Remaja dikatakan memiliki masalah emosi jika mereka mempunyai gangguan psikiatri yang mempengaruhi kehadiran dan penampilan di sekolah.
  • Masalah-masalah keluarga, sosial dan budaya
Sistem keluarga, masyarakat dan lingkungan sekolah berpengaruh terhadap motivasi remaja, dan penampilan di sekolah. Masing-masing factor tersebut perlu mendapat perhatian bila seorang individu mengalami prestasi yang kurang. Stres ekonomi, lingkungan dan emosi dalam keluarga dapat menngakibatkan seorang remaja mengalami disfungsi di sekolah. Minat orangtua terhadap keberhasilan pendidikan remaja dapat juga mempunyai pengaruh yang besar pada perjalanan dan motivasi remaja di sekolah.


C.        Manifetasi Klinis
            Sebagian besar perangkat tes pendidikan menggunakan model sibernetika , suatu model proses informasi untuk dapat memahami masalah belajar dan gangguan belajar, yang terdiri dari 4 tahap dari proses kognitif, yang saling mempengaruhi, yaitu : input, integrasi, memori, output.
Telah disadari bahwa tugas belajar meliputi lebih dari satu proses dan bahwa gangguan belajar dapat meliputi lebih dari satu area yang mengalami disfungsi. Langkah pertama dalam belajar adalah input, dimana informasi masuk ke dalam otak. Suatu informasi dicatat, diterima, diproses dan diinterpretasikan. Proses ini disebut integrasi. Kemudian informasi tersebut digunakan atau disimpan dan kemudian didapatkan kembali melalui proses memori. Akhirnya informasi ini disampaikan/diteruskan dalam bentuk bahasa atau aktifitas motorik, ini disebut dengan proses output. Jadi gangguan belajar akan meliputi 4 tahap yang disebutkan di atas dan akan dijelaskan sebagai berikut :
1.            Gangguan Input
Input adalah proses otak sentral dan tidak mengenai masalah-masalah visual perifer atau pendengaran. Dalam hal ini gangguan yang terjadi berupa gangguan persepsi visual atau pendengaran.
Gangguan persepsi visual berupa kesulitan dalam mengetahui posisi dan bentuk dari apa yang dilihat. Input dapat dirasakan berupa huruf-huruf terbalik atau diputar. Contohnya huruf d,b,p dan q dapat membingungkan satu sama lain, demikian juga dengan huruf n dan u. Kebingungan ini jelas terlihat ketika mulai belajar membaca, menulis atau menyalin huruf-huruf. Remaja yang lain dapat mengalami suatu masalah figure-ground yaitu suatu kesulitan dalam memusatkan pada gambar yang bermakna dari input visual lainnya. Membaca memerlukan kemampuan ini pada kalimat-kalimat spesifik, kemudian membaca dari kiri ke kanan pada setiap baris kalimat. Remaja dengan gangguan ini dapat mengalami masalah-masalah dalam membaca.  Gejalanya dapat berupa : bila sedang membaca kata-kata sering dilompati, kalimat dalam baris yang sama dibaca 2 kali, atau kalimat dilompati. Menduga jarak atau persepsi kedalaman adalah persepsi visual lainnya yang bisa mengalami disfungsi. Seorang remaja dapat salah dalam menilai kedalaman, menabrak sesuatu, jatuh dari kursi, melanggar minuman hingga jatuh oleh karena jangkauan tangan terlalu jauh untuk mengambilnya.
Sama halnya dengan persepsi visual, remaja dapat mengalami kesulitan dengan satu atau beberapa aspek dari persepsi pendengaran. Remaja mengalami kesulitan membedakan suatu perbedaan yang minimal sehingga suara-suara akan salah dimengerti dan responnya menjadi tidak benar. Kata-kata yang kedengarannya sama sering membingungkan seperti pada kata blue dan blow atau ball dan bell.
Beberapa orang tidak bisa memproses input suara secepat yang dapat dilakukan orang normal. Keadaan ini disebut auditory lag. Contohnya seorang guru menjelaskan tentang konsep matematika, murid dengan gangguan ini akan mampu menerima dan mengerti langkah-langkah 1, 2, 3, kemudian pada langkah ke-4 ia salah. Lalu meneruskan pada langkah ke-5. Akibatnya mereka kehilangan satu langkah dan tidak mengerti konsep yang telah dijelaskan.

2.            Gangguan Integrasi
Agar kita dapat mengerti, sutu informasi yang masuk ke otak minimal harus terdapat 3 langkah yaitu : sekuensi, abstraksi, dan organisasi. Proses integrasi input memerlukan ketiga langkah tersebut.
Seorang remaja dapat mengalami gangguan pada satu atau semua area tersebut. Bila kesulitan dalam memproses informasi ini dalam hal penglihatan, kesulitan ini meliputi input pendengaran, disebut gangguan sekuensi pendengaran dan seterusnya. Umumnya gangguan bisanya meliputi semua area tersebut.
a.         Gangguan Sekuensi
            Seorang remaja dengan gangguan sekuensi dapat mendengar atau membaca cerita tetapi pada waktu menceritakan kembali dapat mulai dari tengah cerita, kemudian ke awal cerita kemudian sampai akhir cerita. Jadi keseluruhan cerita diceritakan tetapi rangkaian cerita salah. Dapat juga pendengar melihat kata air, dibaca ria. Contoh lain adalah dalam hal menyebutkan secara berurutan hari-hari dalam minggu atau bulan dalam tahun. Apabila penderita ditanya bulan  apa setelah agustus, mereka tidak langsung menjawab akan tetapi mereka akan menyebutkan nama bulan dari awal yaitu januari, februari dan seterusnya sampai menemukan jawabannya. Hal yang sama juga juga terjadi bila ditanya mengenai huruf dalam abjad, mereka selalu mulai sejak awal yaitu huruf a.
b.         Gangguan Abstraksi
            Abstraksi adalah kemampuan untuk mendapatkan arti yang benar dari suatu kata atau symbol dan kemampuan ini adalah tugas intelektual yang sangat mendasar. Beberapa individu mempunyai masalah dalam hal abstraksi. Mereka tidak dapat mengambil kesimpulan mengenaai arti dari suatu kejadian. Mereka tidak mengerti lelucon atau tertawa. Mereka bingung dengan perumpamaan atau permainan kata-kata. Kadang-kadang mereka tampak menjadi paranoid oleh karena apa yang mereka anggap benar mereka pikir orang-orang mencela atau marah padanya. Remaja yang mengalami  gangguan abstraksi secara bermakna mengalami retardasi mental.
 
c.                     Gangguan organisasi
            Suatu informasi dicatat,dirangkaikan dan dimengerti, hal ini seharusnya terintegrasi dengan informasi baru daan juga berhubungan dengan informasi yang dipelajari sebelumnya. Beberapa individu dalam hal ini mengalami kesulitan. Seorang remaja dapat mempelajari rentetan peristiwa-peristiwa akan tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan-petanyaan umum yang diajukan mengenai peristiwa tersebut. Pekerjaan rumah mereka tinggalkan di sekolah; pekerjaan sekolah mereka tinggalkan di rumah. Mengatur waktu juga merupakan suatu masalah pada remaja yang mengalami gangguan organisasi.

3.            Gangguan Memori
Suatu informasi diterima, dicatat di otak, diintegrasikan, disimpan dan dapat diingat kembali. Proses penyimpanan dan pengingatan kembali suatu informasi ini disebut memori. Ada 2 jenis memori yaitu : memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori Jangka pendek adalah suatu proses mengingat kembali informasi dalam jangka waktu yang singkat, sedangkan memori jangka panjang adalah suatu proses dimana informasi yang sudah disimpan akan dapat diingat kembali dengan cara memikirkannya kembali.

4.            Gangguan Output
Informasi yang diterima diwujudkan dalam bentuk kata-kata, bahasa atau aktivitas otot (menulis, menggambar, sikap, gerakan). Remaja dapat mengalami gangguan berbahasa atau suatu gangguan motorik. Jika seorang remaja mengalami masalah dalam persepsi visual, otak akan mencatat atau memproses informasi yang salah kepada otot-otot selama aktifitas yang memerlukan koordinasi mata tubuh ini. Keadaan ini disebut gangguan motorik visual

D.        Pengelompokan Gangguan Belajar
            Para pendidik umumnya membagi gangguan proses informasi tersebut di atas dalam 4 kelompok yaitu gangguan membaca, gangguan matematika, menulis, dan berbahasa. Mereka umumnya menentukkan adanya ketidaksesuaian yang bermakna diantara kemampuan sebenarnya dan kemampuan yang diperkirakan untuk mengatakan seorang remaja mengalami gangguan belajar. Secara praktis, ketidaksesuaian 2 standard deviasi (SD) antara skor pada tes IQ dan tes kemampuan sering dianggap sebagai bukti dari adanya gangguan belajar.

 1.            Gangguan Membaca
Proses membaca meliputi : decoding (mengartikan huruf ke dalam ucapan) dan pemahaman (menginterpretasikan pesan atau arti dari bacaan). Disleksia adalah gangguan membaca yang paling sering, dimana remaja mengalami gangguan dalam kemampuan decoding, tetapi pemahaman masih baik.Indikator-indikator klinis dari gangguan decoding meliputi menebak kata-kata, gangguan dalam mengkombinasikan suara-tulisan, dan kesalahan dalam mengeja yang meliputi pengucapan/lafal yang salah dari kata-kata. Di samping itu remaja dengan disleksia mengalami gangguan dalam merangkai ucapan dalam kata-kata, suku kata dan fonem, dan menusun kembali suara ke dalam kata-kata yang diucapkan. Jika proses decoding baik, tetapi pemahaman mengalami gangguan, disebut hiperleksia. Kelainan ini relaatif jaranng terjadi. Remaja dengan hiperleksia dapat membaca segala macam bacaan tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Mereka sering juga mengalami gangguan berbahasa oral.
2.            Gangguan Matematika
Istilah diskalkulia atau akalkulia sering digunakan pada remaja-remaja dengan gangguan dalam kemampuan mengerjakan perhitungan aritmatika atau konsep angka dan ruang, mengakibatkan kemampuan yang kurang dalam bidang matematika. Remaja mengalami kesulitan belajar menggunakan angka-angka dan kesulitan menggunakan prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari.
3.            Gangguan Menulis
Istilah gangguan menullis adalah kesulitan dalam mengeja dan aspek-aspek linguistic lain dari menulis seperti : menyusun dan member tanda baca pada kalimat dan membuat paragraph, dan tidak termasuk gangguan/kesulitan dengan tulisan tangan. Oleh karena gangguan membaca, remaja yang menderita disleksia seharusnya juga dievaluasi kemungkinan adanya gangguan menulis. Remaja dengan gangguan menulis, mampu merumuskan fikiran yang kompleks tetapi oleh karena kesulitan dalam mengeja, mereka tidak dapat untuk mewujudkan pikiran dalam tulisan. Kemampuan membuat paragraph kurang; kalimat-kalimatnya pendek, dan tiba-tiba tehenti.
4.            Gangguan Berbahasa
Ada 2 bentuk bahasa dalam komunikasi yaitu bahasa spontan dan bahasa permintaan (demand language). Bahasa spontan terjadi pada situasi dimana individu berbicara spontan tanpa pengaruh orang lain. Dalam hal ini terdapat suatu kesempatan untuk memilih subyek, mengatur pikiran, dan memilih kata-kata yang benar sebelum berbicara. Pada bahasa permintaan, orang lain menciptakan suatu keadaan dimana sesuatu harus dikomunikasikan. Contohnya, suatu pertanyaan ditanyakan, dan hal tersebut perlu diatur atau ditata secara simultan, menemukan kata-kata yang benar dan dijawab lebih atau kurang tepat. Remaja dengan gangguan bahasa spesifik biasanya tidak mengalami kesulitan dalam bahasa spontan akan tetapi mengalami masalah dalam bahasa permintaan. Di samping itu dapat ditemukan adanya inkonsistensi. Remaja menguasai percakapan., tidak ada jeda atau berhenti di tengah-tengah percakapan, akan tetapi pada waktu mereka berada pada situasi yang memerlukan respon mereka akan menjawab “huh? Atau apa?atau saya tidak tahu atau mereka mengulang pertanyaan atau tidak menjawab. Jika dipaksa untuk menjawab responnya bisa membingungkan atau mereka menjawab seadanya atau sambil lalu yang sulit dimengerti.

E.        Diagnosis
            Proses belajar adalah suatu proses yang kompleks. Setiap individu dengan gangguan belajar masing-masing mempunyai gambaran sendiri-sendiri dari kemampuan dan ketidakmampuan belajarnya. Jadi, setiap orang seharusnya dievaluasi dan dipelajari secara terpisah. Sangat penting untuk mengetahui gambaran tersebut sehingga penanganan dapat direncanakan baik melalui pendidikan maupun secara medis.
            Riwayat penyakit dapat diperoleh dari keluarga dan laporan-laporan sekolah serta sumber-sumber laporan penting lainnya. Juga adapat dilihat dari penampilan seseorang yang tidak konsekuen. Remaja itu sendiri dapat merupakan sumber informasi yang penting dalam menegakkan diagnosis. Pertanyaan yang diajukan dapat dipusatkan pada tugas-tugas atau kemampuan akademik dasar. Selama dilakukan Dokter atau Petugas Kesehatan dapat mengamati secara langsung dan jelas kesulitan-kesulitan dalam mendengar dan mengerti apa yang dikatakan. Remaja dapat mengalami kesulitan mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan gerakan mata-tangan, atau mungkin tidak dapat membaca dengan baik atau mengerjakan tugas-tugas akademik lainnya.
            Bila dicurigai adanya gangguan belajar, dapat dilakukan tes-tes psiko-edukasional. Penilaian psikologis, dapat meliputi evaluasi neuropsikologi atau psikologi klinik. Salah satu tes yang penting adalah tes IQ, terutama untuk menentukkan apakah terdapat suatu ketidaksesuaian atau scatter dalam subtest. Tes-tes lain adalah menilai persepsi, kognitif, dan gangguan bahasa. Tes-tes yang sering digunakan adalah :
1)    Tes Psikologi
·           Wechhsler Intelligence Scale por Children (WISC) (untuk umur 6-16 tahun)
·           Wechhsler Adult Intelligence Scale (WAIS) (Untuk umur lebih besar dari 16 tahun)
·           Stanford Binet Intelligence Scale (Untuk umur 2 tahun sampai dewasa)
2)    Tes Kemampuan
·           Wide-range Achievement Test
·           Peabody Individual Achievement Test
·           Woodcock-Johnson Psycoseducational Battery
·           Metropolitan Achievement Test
·           Stanford Diagnostic Achievement Test
3)    Diagnostic Educational Test
·           Woodcock-Johnson Psycoseducational Battery
Diagnosis banding dapat dilihat apakah ada gangguan penglihatan dan pendengaran, gangguan endokrin misalnya hipotiroidisme, dan penyakit-penyakit kronis.

F.         Penatalaksanaan
            Pengobatan pada gangguan belajar adalah pendidikan khusus. Intervensi ini dapat dilakukan melalui sekolah, dimana murid-murid dapat dimasukkan dalam sekolah regular atau sekolah khusus. Beberapa oranng memerlukan program pendidikan khusus secara terus menerus agar dapat menolong dirinya sendiri. Pendidikan professional khusus akan memberikan intervensi khusus dalam bidang membaca, menulis, dan matematika. Di samping itu berusaha menyusun strategi belajar disesuaikan dengan kemampuan dan kekurangan penderita. Secara keseluruhan intervensi ini bertujuan untuk membangun kemampuan belajar atau mengatasi gangguan belajar. Selain peranan guru, perlu juga peranan dari professional lain seperti ahli terapi wicara daan ahli terapi okupasi.
            Peran orangtua di rumah diharapkan dapat mengerti mengenai keadaan anak remajanya dan meraka adapat membangun kekuatan anaknya dalam mengatasi gangguan tersebut.
            Penanganan gangguan membaca meliputi usaha yang intensif dalam proses pembentukan atau perkembangan fonologi dan belajar membaca dengan lancer. Program proses fonologi meliputi praktek-praktek pengucapan fonem dan hubungan fonem dengan organ sensori lainnya atau strategi menghafal untuk mengingat tulisan dengan bunyinya. Contoh, belajar gerakan bibir dan lidah sesuai dengan huruf dan bunyinya. Di samping belajar fonem dan program membaca, juga dipelajari penggunaan kata. Pada tahap akhir penderita diajar membaca secara menyeluruh.
            Dalam pendekatan penanganan gangguan matematika sangat bervariasi. Pertama, yang perlu diketahuai adalah jenis gangguan matematika yang terjadi. Contoh kesalahan menghitung dapat terdiri dari :kurang perhatian, salah menggunakan tanda-tanda matematika, menebak dan menngabaikan langkah-langkah penting dalam perhitungan aritmatika. Perhatian kemudian ditujukankan pada area spesifik atau yang mengalami gangguan. Cara penanganan yang diperlukan sangat bersifat individu. Pada beberapa kasus diperlukan contoh-contoh nyata atau analogi untuk menerangkan konsep-konsep yang bersifat abstrak sampai anak mengerti. DI pihak lain, jika masalah konsepsual dan organisasi visual yang merupakan penyebab gangguan matematika, maka digunakan metode visualisasi.
           
Pada gangguan menulis, jika hanya mengeja merupakan masalah, maka penanganan gangguan membaca yang dimodifikasi sering dapat meningkatkan kemampuan mengeja. Jika masalahnya merupakan integrasi visual-motorik atau koordinasi maka penderita dirujuk kepada ahli terapi okupasi. Penderita dengan gangguan visual motorik juga dapat dievaluasi kemampuan menulisnya dengan menggunakan keyboards. Beberapa jenis cara penanganan digunakan untuk mengatasi masalah gangguan menulis. Pertama, belajar menulis dilakukan dalam suasana yang lebih bersifat alamiah, kurang bersifat evaluative.Contoh, anak disuruh menulis daftar hadiah. Kedua, belajar menulis dalam catatan-catatan kecil dan garis-garis besarnya saja sebelum menuliskan dalam bentuk prosa. Membuat catatan-catatan kecil sangat membantu oleh karena ide-ide dapat dicatat sebelum ditulis dalam tulisan akhir. Ketiga, belajar menulis apa yang diiucapkan atau didikte oleh orang lain.
            Penggunaan obat-obatan dalam menangani penderita dengan gangguan belajar tergantung gangguan yang menyertai gangguan belajar tersebut. Misal, bila gangguan belajar disertai dengan adanya ADHD, maka dapat diberikan obat stimulant; atau bila disertai dengan kecemasan maka dapat diberikan obat anti cemas.

PENANGANAN PADA ANAK DENGAN BIBIR SUMBING


Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan inteligensia berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan.
Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang di tunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak menuju dewasa. Perkembangan menandai maturitas dari organ-organ dan sistem-sistem, perolehan ketrampilan, kemampuan yang lebih siap untuk beradaptasi terhadap stress dan kemampuan untuk memikul tanggung jawab maksimal dan memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan  kreativitas.           
Sampai saat ini, penyebab utama terjadinya bibir sumbing belum diketahui pasti. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan bibir sumbing antara lain faktor genetik atau keturunan.Faktor keturunan ini diduga sangat kuat, mungkin salah satu orang tuanya atau keduanya membawa sifat sehingga timbul cacat bibir sumbing, sebagaimana halnya penyakit-penyakit bawaan yang lain. Kalau orang tuanya tak ada bibir sumbing mungkin nenek atau buyutnya, jadi garis turunan ke atasnya. Namun begitu, beberapa literature mengatakan bahwa faktor keturunan sebaiknya jangan dipersoalkan, sebab bisa menimbulkan masalah antara suami dan isteri. Bisa saling salah menyalahkan. Hendaknya lebih menekankan pada penanganan atau terapinya. Sebagai umat beragama lebih bijaksana dengan menerimanya dan berusaha menangani sebaik mungkin dengan menyerahkan kepada ahlinya.
Berikutnya, faktor lingkungan antara lain; adanya infeksi yang disebabkan virus Rubella/campak sewaktu ibu hamil muda. Kemudian, akibat teratogen; zat kimia yang menimbulkan kelainan perkembangan embrio jika diberikan selama kehamilan, semisal hydantoin, trimethadione, valporate, dan lain-lain. Lalu nutrisi, salah satunya adalah defisiensi atau kekurangan asam fosfat. Begitu pula obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil, seperti untuk menenangkan pasien sewaktu hamil muda. Sedangkan jamu-jamuan sampai sekarang belum diselidiki pengaruhnya. Bisa juga karena radiasi akibat reaksi berantai, seperti bom atom.
Faktor selanjutnya adalah multifaktor, adanya interaksi antara faktor lingkungan dan genetik.
Bibir sumbing tergolong cacat bawaan, tapi bisa diperbaiki mendekati normal. Yang penting lagi, anak harus disiapkan secara mental tentang kekurangannya.

A.         Pengertian
Bibir sumbing disebut juga sebagai Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit .
Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing  pada bibir) yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.
Pengertian lain menjelaskan bahwa Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada wajah.
Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan Labio Palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.

B.         Patofisiologi
Sampai saat ini, beberapa ahli mengungkapkan bahwa penyebab utama terjadinya bibir sumbing belum diketahui pasti. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan bibir sumbing antara lain faktor genetik atau keturunan. Faktor ini diduga sangat kuat, mungkin salah satu orang tuanya atau keduanya membawa sifat sehingga timbul cacat bibir sumbing, sebagaimana halnya penyakit-penyakit bawaan yang lain. Kalau orang tuanya tak ada bibir sumbing mungkin nenek atau buyutnya, jadi garis turunan ke atasnya. Namun begitu faktor keturunan sebaiknya jangan dipersoalkan, sebab bisa menimbulkan masalah antara suami dan isteri. Bisa saling salah menyalahkan. hendaknya lebih menekankan pada penanganan atau terapinya. Sebagai umat beragama lebih bijaksana dengan menerimanya dan berusaha menangani sebaik mungkin dengan menyerahkan kepada ahlinya.
Berikutnya, faktor lingkungan antara lain; adanya infeksi yang disebabkan virus Rubella/campak sewaktu ibu hamil muda. Kemudian, akibat teratogen; zat kimia yang menimbulkan kelainan perkembangan embrio jika diberikan selama kehamilan, semisal hydantoin, trimethadione, valporate, dan lain-lain. Lalu nutrisi, salah satunya adalah defisiensi atau kekurangan asam fosfat. Begitu pula obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil, seperti untuk menenangkan pasien sewaktu hamil muda. Sedangkan jamu-jamuan sampai sekarang belum diselidiki pengaruhnya. Bisa juga karena radiasi akibat reaksi berantai, seperti bom atom.
Faktor selanjutnya adalah multifaktor, adanya interaksi antara faktor lingkungan dan genetic.
Hasil Penelitian lain mengungkapkan bahwa penyebab utama bibir sumbing karena kekurangan seng dan karena menikah/kawin dengan saudara/kerabat. Bagi tubuh, seng sangat dibutuhkan enzim tubuh. Walau yang diperlukan sedikit, tapi jika kekurangan berbahaya.
Sumber makanan yang mengandung seng antara lain : daging, sayur sayuran dan air. Di NTT airnya bahkan tidak mengandung seng sama sekali. Soal kawin antara kerabat atau saudara memang menjadi pemicu munculnya penyakit generatif, (keterununan) yang sebelumnya resesif. Kekurangan gizi lainya seperti kekurangan vit B6 dan B complek. Infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat obatan/jamu juga bisa menyebabkan bibir sumbing.
Proses terjadinya labio palatoshcizis yaitu ketika kehamilan trimester I dimana terjadinya gangguan oleh karena beberapa penyakit seperti virus. Pada trimester I terjadi proses perkembangan pembentukan berbagai organ tubuh dan pada saat itu terjadi kegagalan dalam penyatuan atau pembentukan jaringan lunak atau tulang selama fase embrio.
Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal medical dan maxilaris maka dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan proses penyatuan tersebut akan terjadi pada usia 6-8 minggu. Kemudian apabila terjadi kegagalan penyatuan pada susunan palato selama masa kehamilan 7-12 minggu, maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis).

C.      Kategori dan Hambatan
Bibir sumbing merupakan cacat bawaan yang sudah tampak sejak bayi dilahirkan. Ciri-cirinya jelas sekali; akan tampak pada bibir bayi ada sumbingnya/celahnya atau terbelah, baik satu sisi atau dua sisi. Karena penampakannya yang nyata, cacat bibir sumbing berbeda dengan cacat lain yang kerap tak kelihatan seperti Hirschprung's (kelainan yang ditandai dengan menggembungnya usus besar).
1.         Kategori
Bibir sumbing dikategorikan dalam lima jenis yaitu :
a)            Kategori sederhana atau tidak lengkap; bila terbelahnya tidak seluruh ketinggian bibir, misal hanya 1/3 bibir.
b)            Bibir sumbing lengkap; bila terbelahnya pada seluruh ketinggian bibir.
c)            Bibir sumbing satu sisi; bila hanya sebelah kiri atau kanan saja.
d)            Bibir sumbing dua sisi; bila terbelahnya pada dua sisi bibirnya.
e)            Bibir Sumbing biila disertai terbelahnya/sumbing pada gusi dan langit-langit.
2.         Hambatan
Yang jelas, secara fisik bibir sumbing akan mempengaruhi fungsi bibir tersebut. Pada bayi, fungsi bibir adalah untuk mengisap atau menyusu. Jadi, dengan adanya bibir sumbing maka fungsi mengisap akan berkurang. Dikhawatirkan intake makanan akan berkurang, yang akan mempengaruhi status gizinya.
Selain itu, fungsi bibir untuk membentuk bunyi. Dengan adanya bibir sumbing, pengeluaran beberapa huruf akan terganggu, umpamanya huruf "m", "p", "b". Bahkan, bibir sumbing pun bisa mengakibatkan suara menjadi sengau. Hal itu akibat adanya kebocoran aliran udara, sebagian ke mulut dan sebagian bocor ke rongga hidung. Tapi, ini hanya terjadi pada langit-langit sumbing.
Dipandang dari segi kejiwaan, bila bibir sumbing dibiarkan atau tidak dilakukan penanganan/operasi, maka akan menimbulkan rasa rendah diri atau minder pada si penderita. Apalagi saat si anak memasuki usia sekolah dan seterusnya. Ini akan mengurangi rasa percaya diri, sehingga ia kurang produktif, dan akan menghambat karirnya di masyarakat,.

D.      Penatalaksanaan
Upaya pencegahan bibir sumbing pada bayi yang akan dilahirkan, secara teori dapat dilakukan dengan terapi genetik. Tapi secara praktek belum dapat dilaksanakan. Sebetulnya dalam usia kehamilan lewat 6 bulan cacat bibir sumbing sudah dapat dideteksi. Secara teori, penanganan atau operasi intra uterine dapat dilakukan dengan segala kerumitannya. Diharapkan hasil operasinya akan bagus sekali. Sayang, dalam praktek belum dapat diterapkan karena tingkat kerumitan dan risikonya sangat tinggi.
Dengan demikian pencegahan baru dilakukan pada tahap genetic counselling, berupa penerangan kepada pasangan yang akan membentuk rumah tangga. Inipun baru dalam tahap anjuran. Sampai saat ini pemeriksaan genetik memang dilakukan dengan konseling, meneliti sejauh mana turunan ke atasnya, karena itu akan memungkinkan terjadinya cacat bawaan yang kita pun tak bisa tahu. Jadi, lebih untuk kesiapan mental bila suatu kemungkinan terjadi. Di sini konseling belum memasyarakat, tak seperti di luar negeri yang sudah biasa.
Sedangkan terapi penanganannya hanya bisa dilakukan dengan cara operasi. Kendati, tak seluruh wilayah Indonesia memiliki kemampuan dan fasilitas sama untuk melakukan operasi bibir sumbing. Fasilitas yang ada sekarang tak sebanding dengan jumlah penderita.Jadi, misalnya dilahirkan seribu pasien bibir sumbing, yang dapat ditangani kurang lebih 300-400 setahun. Tahun depan begitu lagi, sehingga banyak di masyarakat terutama di daerah yang jauh dari jangkauan fasilitas yang memadai untuk yang sulit dilakukan operasi bibir sumbing.
Tujuan operasi, untuk membuat bibir sumbing jadi nearly normal looking. Tentu sebagai manusia biasa dokter berusaha semaksimal mungkin, tapi tentu saja tidak akan dapat menyamai kesempurnaan ciptaan Sang Pencipta. Untuk berusaha mendekati yang normal pun banyak kendalanya. Misalnya, bila dioperasi pada waktu bayi biasanya luka operasinya atau parutnya makin tidak jelas atau tipis. Sedangkan bentuknya diusahakan mendekati normal, baik bibir, hidung, ataupun secara keseluruhan. Baik dalam posisi diam atau sewaktu bibir bergerak, berbicara, tersenyum, bersiul dan lain-lain.Tapi, tentu saja tujuan utamanya lebih pada mengembalikan fungsi, selain sisi estetik dan kosmetik.
Penatalaksanaan tergantung pada kecacatan. Prioritas pertama antara lain pada tekhnik pemberian nutrisi yang adekuat untuk mencegah komplikasi, fasilitas pertumbuhan dan perkembangan.




Penanganan : bedah plastik yang bertujuan menutupi kelainan, mencegah kelainan, meningkatkantumbuh kembang anak. Labio plasty dilakukan apabila sudah tercapai ”rules of overten” yaitu : umur diatas 10 minggu, BB diatas 10 ponds (± 5 kg), tidak ada infeksi mulut, saluran pernafasan unutk mendapatkan bibir dan hidung yang baik, koreksi hidung dilakukan pada operasi yang pertama. Palato plasty dilakukan pada umur 12-18 bulan, pada usia 15 tahun dilakukan terapi dengan koreksi-koreksi bedah plastik. Pada usia 7-8 tahun dilakukan ”bone skingraft”, dan koreksi dengan flap pharing. Bila terlalu awal  sulit karena rongga mulut kecil. Terlambat, proses bicara terganggu, tidak lanjutnya adalah pengaturan diet. Diet minum susu sesuai dengan kebutuhan klien.

E.          Konsep Tumbuh Kembang, Bermain, Nutrisi dan Dampak Hospitalisasi.

Dibawah ini akan diuraikan mengenai konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi dan dampak hospitalisasi pada anak yang berumur 5 tahun.
1.         Pertumbuhan.
Menurut Whalley dan Wong (2000), mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, hal ini merupakan suatu proses yang alamiah yang terjadi pada setiap individu.
Sedangkan Marlow (1998) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan. Pertumbuhan pada anak usia 5 tahun pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata per tahunnya adalah 2 Kg, kelihatan kurus akan tetapi aktifitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh mencapai kematangan seperti berjalan, melompat, dan lain-lain.
Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75 sampai 7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2006).

2.         Perkembangan
Perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks yang melalui maturasi dan pembelajaran.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak diantaranya faktor herediter, faktor lingkungan, dan faktor internal. Perkembangan psikoseksual, anak pada fase falik (3-6 tahun), selama fase ini genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin, seringkali anak merasa penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya. Dengan perbedaan ini anak sering meniru ibu atau bapaknya untuk memahami identitas gender (Freud). Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan.
Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah yang terlihat sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya (Hidayat, 2006).

3.         Nutrisi.
Nutrisi sangat penting untuk tumbuh dan berembang, anak membutuhkan zat gizi yang esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air yang harus dikonsumsi secara seimbang, dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada tahapan usianya. Kebutuhan cairan pada anak usia 5 tahun  yaitu 1600-1800cc/24 jam (Hidayat, 2006). Kebutuhan kalorinya adalah 85 kkal per kg BB.
Pada masa prasekolah kemampuan kemandirian dalam pemenuha kebutuhan nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makanan seperti garpu, piring, sendok dan gelas semuanya harus dijalaskan pada anak atau doperkenalkan dan dilatih dalam penggunaannya, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada.
Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran dan buah-buahan.

4.         Bermain
Bermain merupakan suatu aktifitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa.
Pada usia 3-6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangakan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong.
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat-alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.

5.         Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu poroses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya sampai kembali kerumah.
Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stress.
Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakan amat, penuh kasih sayang, dan menanyakan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Perawatan dirumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya, anak merasa kehilangan kekuatan diri, malu, bersalah, atau takut.anak akan bereaksi agresif dengan marah dan berontak, tidak mau bekerjasama dengan perawat.







F.       Pemeriksaan penunjang
1.         Tes pendengaran, bicara dan evaluasi.
2.         Laboratorium untuk persiapan operasi; Hb, Ht , leukosit, BT, CT scan.
3.         Evaluasi ortodental dan prostontal dari mulai posisi gigi dan perubahan struktur dari orkumaxilaris.
4.         Konsultasi bedah plastik, ahli anak, ahli THT, ortodentisist, spech therapi.
5.         MRI

F.  Tes Skrining Perkembangan Menurut Denver (DDST)

DDST (Denver Developmental Screening Test) adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukanlah tes  diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan DDST secara efektif 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambangan perkembangan (Soetjiningsih, 1998).
Frankenburg dkk (1981) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu: Personal Sosial (kepribadian/ tingkah laku sosial) yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya; Gerakan Motorik Halus yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang sesuatu benda;  Bahasa  adalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan; Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor) adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Alat yang digunakan  seperti alat peraga: wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merah-hijau-biru, prmainan anak, botol kecil, bola tennis, bel kecil, kertas dan pencil; lembar formulir DDST; buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya (Soetjiningsih, 1998).
Penilaian sesuai dari buku petunjuk terdapat penjelasan tentang bagaimana melakukan penilaian, apakah lulus (Passed = P), gagal (Fail = F) ataukah  anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = N.O). Kemudian ditarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horizontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang F, selanjutnya berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: 
a.            Abnormal, bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan pada 2 sektor atau lebih, bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan plus 1 sektor atau lebih dengan keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.  
b.            Meragukan  (Questionable), bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih, bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sector yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 
c.                Tidak dapat dites (Untestable) 

Operasi sedini mungkin pun dilakukan agar anak masih memiliki kesempatan untuk dikoreksi ulang saat anak usia TK, misalnya. Jadi, bila operasi pertama usia 3 bulan, kemudian saat ia TK tampak bentuk bibirnya kurang bagus, maka ada kesempatan untuk operasi atau perbaikan ulang. Kemudian kalau usia remaja 12-14 tahun dan anak melihat sendiri dan merasa kurang bagus, ada kesempatan lagi dioperasi sebelum remaja.