Santabe Ncore Mena..Selamat Datang.
Welcome To My Private Home..Lembo Ade
Rabu, 03 Juli 2013
ANTARA LIDAH, PERKATAAN, DAN PERBUATAN
Berbicara. Sungguh sebuah kosa kata yang sederhana. Setiap hari kita mengucapkan kata-kata, sehingga sama sekali tidak ada hal yang menarik untuk dibahas. Tetapi, mengapa ada orang yang dibayar hingga puluhan juta rupiah untuk berbicara selama satu atau dua jam saja? Ada orang yang dicintai karena perkataan-perkataannya. Dan ada orang yang dibenci karena ucapan-ucapannya. Oleh sebab itu, kesederhanaan dibalik makna 'berbicara' pastilah memiliki keistimewaan yang layak untuk kita renungkan.
Berbicara bukanlah sekedar keterampilan memainkan lidah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melainkan juga menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan gagasan, bertukar pikiran, juga mempengaruhi orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk belajar berbicara secara efektif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Berbicaralah yang baik, atau diam saja.
Sungguh beruntung orang-orang yang dapat menjaga lidahnya untuk tetap diam, daripada mereka yang rajin mengucapkan perkataan yang tidak memiliki manfaat apa-apa. Resiko tertinggi orang yang diam adalah 'disebut orang pasif'. Sedangkan resiko terrendah bagi orang yang banyak bicara adalah disebut 'orang yang banyak omong'. Manfaat terbesar bagi orang yang diam adalah 'tidak dibenci oleh orang lain'. Sedangkan manfaat terbesar bagi orang yang berbicara adalah; 'pahala yang mengalir atas kata-katanya yang baik'. Maka berbicaralah yang baik-baik karena pahala kebaikannya sangat besar. Atau kalau tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik, maka sebaiknya ya diam saja.
2. Selaraskanlah antara perkataan dengan perbuatan.
Perhatikan orang-orang yang tidak selaras antara perkataannya dengan perbuatannya. Betapa banyak contoh orang seperti itu dihadapan Anda. Dan Anda tahu betul bahwa orang lain sudah tidak lagi mempercayai mereka. Ketika seseorang mengatakan pesan-pesan kebaikan kepada orang lain, namun dirinya sendiri berperilaku sebaliknya; maka orang tidak lagi mempercayai kata-katanya. Karena ketidakselarasan menyebabkan hilangnya kepercayaan. Jagalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan, maka Anda akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang disekitar Anda.
3. Gunakanlah perkataan untuk mengajari diri sendiri.
Orang-orang yang terlalu banyak berbicara – saya, misalnya – memiliki kecendrungan untuk mengajari atau mengajak orang lain melalui perkataan yang yang diucapkannya. Sayangnya sering lupa untuk mengajari diri sendiri. "Jujurlah!" katanya. Tetapi dia sendiri tidak jujur. Ini menandakan bahwa dia gagal mengajari dirinya sendiri. Motivasi saya saat mengatakan sesuatu adalah mengajari diri sendiri. Ternyata sangat berat untuk belajar sendirian, makanya saya membagi pelajaran bersama orang-orang yang saya cintai. Itulah sebabnya sambil mengajari diri sendiri, saya berbagi pelajaran itu dengan Anda.
4. Tebuslah perkataan dengan pendengaran.
Ada ruginya juga memposisikan diri sebagai orang yang paling banyak berbicara. Kita sering tidak sempat mendengar perkataan orang lain. Boleh jadi perkataan kita bukanlah hal terbaik dalam satu urusan tertentu. Namun karena kita tidak bersedia mendengarkan perkataan orang lain; maka kita kehilangan pelajaran berharga. Sungguh beruntunglah orang yang selain berbicara, dia juga bersedia mendengar. Selain ilmunya bisa memberi manfaat kepada orang lain, dia sendiri bisa menarik manfaat dari pelajaran yang ditebarkan oleh orang lain.
5. Yakinlah jika setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Kita sering mengira bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menguap begitu saja. Kenyataannya perkataan yang kita ucapkan beberapa tahun lalu, masih diingat oleh orang lain. Sungguh beruntung jika kata-kata itu baik. Namun sungguh rugi kita jika kata-kata itu buruk. Setiap kata yang baik, menghasilkan pahala yang baik. Namun, setiap perkataan buruk pasti akan dibalas dengan imbalan yang juga buruk. Bahkan, guru spiritual saya mengatakan; "Betapa besarnya murka Tuhan kepada orang yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan perbuatannya." Maka yakinlah, setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Keterampilan berbicara bukanlah monopoli mereka yang berprofesi sebagai pembicara publik. Setiap orang patut memiliki keterampilan berbicara yang baik. Satu hal yang perlu diingat adalah; berbicara tidak selalu berarti mengucapkan sesuatu dengan lidah kita, Melainkan juga menunjukkan tindakan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita bisa berbicara dengan nyaring, namun perbuatan kita berbicara lebih nyaring dari kata-kata yang diolah oleh lidah kita...
terima kasih untuk sista's di manapun berada...
yg telah meluangkan waktunya utk membaca artikel kami ini...
Minggu, 30 Juni 2013
CHILDREN ARE OUR SOUL
We are guilty of many errors
and many faults,
but our worst crime is
abandoning the children,
neglecting the fountain of
life.
Many of the thing we need can
wait,
the child can not.
Right now is the time,
his bones are being formed,
his blood being made, and
his sense are being developed.
To him we can not answer
tomorrow,
his name is TODAY!!!!
Selasa, 25 Juni 2013
Sepotong hati itu...
Sepotong hati itu..
Yang hadir di saat pikiran sedang kosong
Yang menyeruak di kala hati sedang lengah
Yang mengisi hari-hari sendiri dan memunculkan rasa nyaman
Bicara dengannya
Berbagi banyak hal
Bertukar pikiran hal-hal yang remeh
Mengomentari sesuatu dan akhirnya tertawa bersama
Semua menjadi indah dan dekat
Sepotong hati itu..
Yang memaksa hadir walau kularang
Ketika rasa nyaman menyeruak
Ketika semua tidak lagi pada tempatnya
Ketika semua yang dirasa indah tetapi pada akhirnya salah
Sepotong hati itu..
Yang mundur dikala hati sudah terkepung binarnya
Yang menghilang ketika semua menjadi terasa nyaman
Yang diam ketika gundah semakin memuncak
Sepotong hati itu..
Mengapa hadir jika harus menghilang tanpa suara
Mengapa pergi ketika perasaan indah itu masih memenuhi kalbu
Mengapa diam ketika kubutuh suaranya untuk bicara
Sepotong hati itu..
Jika akhirnya ini diakhiri…
Jika akhirnya rasa itu tidak ada artinya..
Bicaralah..
Agar aku bisa melepasmu dengan ikhlas
Agar aku bisa menerima kenyataan ini dengan dewasa
Agar aku bisa tetap mengenangmu dalam diam
Agar aku bisa tetap mengingatmu dalam doa
Agar yang ada padamu tetap indah di rasaku
Sepotong hati itu..
Aku akhirnya menyayangimu walau ini tidak lagi pada tempatnya
Sepotong hati itu..
Pergilah..jika ini baik untuk aku
Sepotong hati itu..
Akhirnya…semua memang harus berakhir dalam diam
Dan Yang tersisa hanyalah luka
Sepotong Hati itu…
The last of June 2013
Senin, 06 Mei 2013
SEMANGAT PEMBERIAN ASI HARUS TERUS DIKAMPANYEKAN!!!
Terilhami dari
pertanyaan seorang teman,,,kenapa sih harus ada kampanye ASI EKSLUSIVE?menurut
dia ASI itu dah lumrah diberikan oleh seorang ibu pada anaknya,,tanpa
dikampanyekanpun perempuan-perempuan yang menyebut diri mereka IBU pasti secara
naluri akan memberikan ASI nya..(aku sempat miris dengernya,temanku ini sungguh
naïf rupanya karena dia memberikan ASI pada bayinya secara ekslusive dengan
alasan NALURI KEIBUANNYA sehingga dia mengganggap perempuan lain juga akan
memiliki naluri yang sama seperti dirinya)
padahal pada
kenyataannya….
Belum semua tau
bahwa ASI Ekslusive selama 6 bulan pertama itu TIDAK memberikan tambahan air
putih ketika bayinya habis menyusui, tidak memberikan air ketika bayinya
cegukan, TIDAK memberi tambahan makanan lain (nasi, buah,madu APALAGI susu
formula) TIDAK SAMA SEKALI,,NOT ET ALL!!!
Belum semua
masyarakat sadar bahwa ASI ternyata BISA DIPERAH DAN DISIMPAN (alasannya kaya
sapi aja pake diperah dan apa ngga BASI tuh ASI nya?teriak salah satu teman
kantorku waktu kuceritakan kalo aku ninggalin si kecil dengan susu perahan yang
kusimpan di kulkas n kusimpan juga di suhu kamar supaya bisa langsung diminum
anakku 1 jam kemudian)
Dan ternyata
belum semua masyarakat juga tau terutama bagi ibu-ibu yang bekerja kalau
meskipun mereka bekerja seharian,mereka tetap bisa menyusui bayi mereka tanpa
susu formula dengan ASI PERAH dan TEKNIK PENYIMPANAN ASI PERAH
IRONISNYA..Belum
semua orang peduli dan waspadai betapa BAHAYANYA jika bayi dibawah 6 bulan
sudah diberikan MP-ASI terlalu dini, belum semua paham bagaimana ASI diproduksi
dan apa saja yang bisa mempengaruhi produksi ASI.
IRONISNYA
lagi..banyak ibu-ibu muda yang baru melahirkan sudah duluan yakin bahwa ASI nya
tidak cukup dan lebih mencari gampangnya dengan memberi susu formula. Belum
semua orang percaya dan meyakini bahwa ASI ternyata LEBIH BAIK DARIPADA SUSU
FORMULA
LEBIH
IRONISNYA LAGI…TERNYATA ORANG-ORANG LEBIH MEMILIH MEMBERI SUSU FORMULA yang notabene harganya sungguh fantastis DENGAN
ALASAN GENGSI, SUPAYA STATUS KEHIDUPANNYA LEBIH TINGGI, dan ngga pengen repot meski
ASInya berjubel banyaknya(alasan yang terakhir yang terkadang bikin aku sedikit
naik darah..NGAPAIN PUNYA ANAK KALO NGGA PENGEN REPOT?)
padahal
terlepas dari alasan-alasan ironis itu…
“ANAK-ANAK
KITA YANG MASIH BAYI MEMILIKI HAK UNTUK MENDAPATKAN MAKANAN YANG TERBAIK UNTUK
HIDUPNYA, DAN YANG TERBAIK ITU TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN ADALAH ASI (AIR SUSU
IBU)”
Tugas kita
sebagai ibu adalah menyediakan makanan terbaik itu terlepas dari alasan-alasan
ironis itu.
In the end, pada
kenyataannya TIDAK SEMUA orang MAU belajar tentang ASI.
Rabu, 24 April 2013
Sabtu, 20 April 2013
CONTOH PENERAPAN HACCP PADA PRODUKSI TELUR MATA SAPI
1. TIM HACCP
|
NO
|
FUNGSI
DALAM TIM HACCP
|
JABATAN
DALAM PERUSAHAAN
|
BIDANG
KEAHLIAN
|
|
1
|
Ririn Akmal
Sari
|
Koordinator
Tim
|
Ahli Gizi
|
|
2
|
Nyimas
Anita
|
Anggota Tim
|
Bagian
Produksi
|
|
3
|
Fahruddin
|
Anggota Tim
|
Ahli
Mikrobiologi
|
2. JUDUL :
TELUR MATA SAPI
3. TARGET/TUJUAN
HACCP
a. Umum
Meningkatkan
kesehatan masyarakat dengan cara mencegah atau mengurangi kasus keracunan dan
penyakit melalui makanan (Food Born
Disease) dengan “Telur Mata Sapi”
b. Khusus
·
Mengevaluasi
cara produksi “Telur Mata Sapi”
·
Memperbaiki
cara produksi “Telur Mata Sapi”
· Memantau & mengevaluasi
penanganan, pengolahan, sanitasi pada produksi “Telur Mata Sapi”
·
Meningkatkan
inspeksi mandiri pada proses produksi “Telur Mata Sapi”
4. DISKRIPSI
GAMBARAN PRODUK
|
ASPEK
|
HASIL
PENGAMATAN
|
|
Nama Produk
|
Telur Mata Sapi
|
|
Konsumen
|
K elas III, Dewasa, Ibu baru
melahirkan,makanan Biasa dan TKTP
|
|
Komposisi
|
·
Telur
ayam
·
Merica
·
Garam
·
Minyak
goreng
|
|
Metode Persiapan Konsumsi
|
Telur ayam dimasak terlebih dahulu ± 8 menit
|
|
Metode Pengolahan
|
·
Telur
Mata Sapi diolah di Sub Unit Dapur Umum RSU.
·
Adapun
Metode pengolahan Telur Mata Sapi adalah sebagai berikut :
1) Panaskan Wajan, tuang minyak goreng
secukupnya.,
2) Pecahkan sebutir telur dan masukkan
ke dalam wajan.
3) Taburkan merica dan garam di atas
permukaan telur
4) Balik sebentar, kemudian angkat dan
siap disajikan
·
Proses
penggorengan telur mata sapi pada suhu 120oC selama ± 8 menit
|
|
Cara Penyimpanan
|
·
Telur
Ayam yang sudah dicuci disimpan dalam wadah tertutup dan disimpan dingin
dengan suhu -2°C
·
Telur
Mata Sapi yang sudah dimasak disimpan dalam wadah yang tertutup pada suhu
ruang ± 28° C
|
|
Cara Distribusi
|
·
Menggunakan
plato dan ditutupi dengan plastic
|
|
Cara Konsumsi
|
Dikonsumsi langsung atau
maksimal 1 jam setelah penyajian
|
5. BAHAN – BAHAN YANG DIPERLUKAN
a.
Bahan
Utama : Telur Ayam
b.
Bahan
Lain : garam, merica
bubuk, minyak goreng
6. DIAGRAM ALIR
![]() |
![]() |


![]() |
7. IDENTIFIKASI BAHAYA DAN RESIKO BAHAYA
a.
Identifikasi
Bahaya
|
NO
|
INGREDIENT
|
BAHAYA
B(M)/K/F
|
JENIS BAHAYA
|
CARA PENCEGAHAN
|
|
1.
|
Telur
|
M
F
K
|
·
Salmonela sp
·
Kotoran, retak, dan terdapat bintik merah pada cangkang
serta tidak tenggelam dalam air,
·
Busuk
|
·
Digoreng pada suhu 120°C selama±
8 menit
·
.uji laboratorium
·
Adanya spesifikasi bahan makanan
|
|
2.
|
Merica
|
M
K
F
|
·
Jamur
·
Bau apek,
·
terdapat kotoran
|
·
Menyimpan di tempat kering dan tertutup
·
Sortir
·
Ada Spesifikasi bahan makanan
|
|
3.
|
Garam
|
M
F
|
·
Bacillus Coagulans
· Debu, kerikil Mencair
|
·
Penyimpanan
di tempat kering dan bersih
·
Pemilihan
garam beyodium dalam kemasan.
·
Tidak
terkena sinar matahari langsung
|
|
4.
|
Minyak
goreng
|
K
F
|
·
Air,enzim, cemaran limbah, Berbau tengik
·
warna minyak tidak kuning bening
·
Kemasan
rusak, tanggal kadaluarsa
|
·
simpan
di tempat tertutup dan tidak terkena sinar matahari melakukan uji
laboratorium
·
melakukan
spesifikasi bahan makanan
·
pemilihan
produk dengan kemasan utuh dan membaca label kemasan
|
|
5
|
Persiapan
·
Persiapan
Bahan Baku
·
Persiapan
Peralatan masak dan peralatan saji
·
Persiapan
Higiene dan sanitasi penjamah makanan
|
M
K
F
|
·
Bakteri
·
Rambut
·
Kuku
·
Karat
pada wajan
·
Serangga
·
Kerikil
|
·
Pencucian
telur ayam dengan air bersih dan mengalir
·
penyimpanan
bahan makanan dengan wadah tertutup, lama penyimpanan, dan suhu yang tepat
dan sesuai dengan bahan makanan.
·
hygiene
dan sanitasi alat, ruangan, dan tenaga persiapan.
·
pemakaian
sarung tangan, celemek, dan tutup kepala ketika pengolahan
·
memastikan
wajan yang digunakan untuk menggoreng tidak berkarat.
·
tenaga
persiapan tidak saling bicara saat mempersiapkan bahan makanan.
·
pencucian
terlebih dahulu alat yang digunakan untuk mengolah makanan
|
|
6
|
pengolahan
|
M
F
|
Bakteri
Rambut
Serangga
Debu
Kerikil
|
·
pemasakan
harus benar-benar matang dan mencapai suhu yang tepat.
·
tidak
meletakkan berdekatan antara bahan makanan yang matang dengan yang mentah.
·
hygiene
sanitasi alat, ruangan, dan tenaga pengelola.
|
|
7
|
Distribusi
|
M
F
|
Bakteri
Rambut
Debu
Kotoran
Serangga
|
·
hygiene
sanitasi alat, ruangan, dan tenaga distribusi.
·
mempersingkat
jarak waktu antara pemasakan dengan pendistribusian.
·
pendistribusian
dengan wadah yang tertutup.
|
|
8
|
Penyajian
|
M
F
|
Bakteri
Serangga
Rambut
Debu
|
·
penyajian
makanan dengan kondisi hangat < 65°C
·
tempat
penyajian tertutup
·
jangan
dibiarkan dalam waktu lebih dari 1 jam
|
Keterangan : M = Mikrobiologis
K = Kimia
F = Fisik
b.
Analisis
Kategori Resiko Bahaya pada Telur Mata Sapi
|
NO
|
BAHAN
|
KELOMPOK BAHAYA
|
KATEGORI RESIKO
|
|||||
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
|||
|
1.
|
Telur
|
Ö
|
Ö
|
|
Ö
|
Ö
|
Ö
|
VI
|
|
2
|
Merica
|
Ö
|
Ö
|
|
Ö
|
Ö
|
Ö
|
VI
|
|
8.
|
Garam
|
Ö
|
Ö
|
|
Ö
|
Ö
|
Ö
|
VI
|
|
9.
|
Minyak
goreng
|
Ö
|
Ö
|
|
Ö
|
Ö
|
Ö
|
VI
|
Keterangan :
A = Produk pangan
yang tidak steril dan dibuat untuk konsumsi kelompok beresiko (lansia, bayi,
immunocompromized)
B = Produk mengandung
ingredient sensitive thd bahaya biologis/kimia/fisik
C = Proses tidak
memiliki tahap pengolahan yang terkendali yang secara efektif membunuh mikroba
berbahaya atau menghilangkan bahaya kimia atau fisik
D = Produk
mungkin mengalami rekontaminasi setelah
pengolahan sebelum pengemasan
E = Ada
potensi terjadinya kesalahan penanganan selama distribusi atau oleh/konsumen
yang menyebabkan produk berbahaya
F = Tidak ada tahap
pemanasan akhir setelah pengemasan atau di tangan konsumen atau tidak ada
pemanasan akhir atau tahap pemusnahan mikroba setelah pengemasan sebelum
memasuki pabrik (untuk bahan baku) atau tidak ada cara apapun bagi konsumen
untuk mendeteksi, menghilangkan atau menghancurkan bahaya kimia atau fisik.
0 =
Tidak mengandung bahaya A sampai F
I =
Mengandung 1 bahaya B sampai F
II =
Mengandung 2 bahaya B sampai F
III =
Mengandung 3 bahaya B sampai F
IV =
Mengandung 4 bahaya B sampai F
V =
Mengandung 5 bahaya B sampai F
VI =
Kategori resiko paling tinggi (semua produk yang mempunyai bahaya A)
10. STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
Standar
Prosedur
Operasional
|
PENGOLAHAN TELUR MATA
SAPI
|
|
Pengertian |
:
|
Pengolahan Telur Mata Sapi
adalah suatu proses mulai dari persiapan Telur Ayam dan bahan lain (garam,
merica dan minyak), sampai menjadi makanan yang siap dikonsumsi.
|
|
|
|
|
Tujuan |
:
|
1.
Mengolah Telur Ayam menjadi makanan yang siap
dikonsumsi
2.
Meningkatkan dan mempertahankan warna, aroma, rasa,
konsistensi dan penampilan makanan.
3.
Meningkatkan nilai gizi makanan.
4.
Makanan bebas dari
mikroorganisme dan bahan beracun dan berbahaya
|
Prosedur |
:
|
1. Panaskan Wajan, tuang minyak goreng
secukupnya.,
2. Pecahkan sebutir telur dan masukkan
ke dalam wajan.
3. Taburkan merica dan garam di atas
permukaan telur
4. Balik sebentar, kemudian angkat dan
siap disajikan
5.
Proses
penggorengan telur mata sapi pada suhu 120oC selama ± 8 menit
|
Kebijakan |
|
· Setiap
penjamah makanan harus mencuci tangan sebelum dan sesudah menjamah makanan dengan
sabun anti septic dan air yang bersih.
· Setiap
peralatan persiapan, pengolahan, dan distribusi harus dilakukan sterilisasi
sebelum digunakan
· Air
yang digunakan untuk proses persiapan dan pengolahan makanan harus terjamin
kebersihannya melalui pengujian mikrobiologis secara berkala
|
Unit terkait |
:
|
1. Bagian
persiapan bahan makanan
2. Bagian
pengolahan bahan makanan
3. Bagian
mikrobiologi
|
Langganan:
Postingan (Atom)


